Pindahan 2.0

August 17th, 2008 by iscab

Kawan-kawan tercinta,

Hari ini, adalah hari ulang tahun negeriku tercinta: Indonesia.

Ada perayaan kemerdekaannya.

Mungkin di Jerman tidak semeriah di Indonesia.

Hari ini aku bikin blogs di Blogspot.

Aku merayakan kemerdekaan dari gaptek menggunakan web 2.0.

Aku sudah mulai belajar bermain content.

Blogspot cukup asoy dengan "RSS feed"-nya, sehingga contentnya bisa di-"import" ke Multiply dan Facebook.

Multi-blogs namun dengan satu akun bisa dilakukan juga di blogspot. Hal ini bisa membuatku membuat berbagai blogs dengan tujuan berbeda.

Asyiknya Multiply adalah multi-blogs tersebut bisa diimpor semuanya ke multiply. Facebook hanya bisa mengimpor satu blog saja. Akan tetapi, suatu hari nanti akan kutemukan caranya mengimpor semua blogs milikku ke Facebook. Pembebasan dari gaptek akan selalu berjalan progresif.

Aku belum coba di Friendster ketika menulis ini. Apakah ada mekanisme import juga?

Oh, ya, kata Enda Nasution lebih baik membuat blogs di Blogspot atau Blogsome. Lalu tinggal main import ke sana-sini: Multiply dan Facebook. Setelah kucoba, aku setuju dengannya.

Setelah Blogs, akan kucoba membuat website sendiri.

Namun tunggu waktunya.

Aku masih menyelesaikan studi master dulu.

A Friend for a Click or a Click for A Friend?

August 6th, 2008 by iscab

A Friend for a Click or a Click for a Friend?

Bagaimana cara orang berteman di jaman web 2.0 ini? Hanya bermodal klak-klik kamu bisa jadi teman. Lalu dengan klak-klik juga kamu kehilangan teman.

Pengalaman dengan social networking website dimulai dari Friendster. Aku diajak Arief Samuel Gunawan (Aip), kawan baikku sejak TK hingga kini. Lalu seorang kawan seperjuangan di kelompok muda-muda Katolik di paroki Santo Martinus, Bandung bernama Sandi Kusnadi mengajakku ikut Multiply.

Suatu hari, aku pergi merantau ke negeri seberang. Sesampainya di Jerman, negeri itu, aku diajak gabung StudiVZ oleh mantan teman kosku, Christiana Schuhen. StudiVZ cocok buat student di Jerman. Lalu aku mulai mengenal Facebook setelah diajak Muhammad Rully dan Marta Slawkoska. Sebetulnya aku tidak terlalu tertarik dengan Facebook sewaktu diajak gabung oleh Rully. Aku baru tertarik setelah diajak Marta, cewe Polandia yang cantik ini.

Setelah aku bergaul dengan beberapa orang Jerman, aku diajak Regine Wolter untuk ikut KT Community. Komunitas Katolik di dalam jaringan sosial maya.

Sekarang aku punya dua akun Friendster, satu untuk kawan yang kukenal dan satu lagi untuk "random adding". Sebetulnya tidak random banget, aku melihat profil cewe yang kelihatan cantik lalu aku add atau temannya cewe yang terlihat cantik lalu aku add. JAdi tidak acak, ada tujuannya.

Di StudiVZ, Facebook, Multiply, dan KT Community aku hanya punya satu akun masing-masing. Aku belum melihat gunanya memiliki dua akun. Dulu Friendster membatasi jumlah teman hanya 500, jadinya aku punya dua akun.

Aku hanya beraktivitas di taman maya Friendster dan Facebook. Di taman lain agak jarang. Sekarang aku berusaha menyamakan teman di Friendster dan Facebook. Maksudnya, aku sedang mengajak kawan-kawan di Friendster untuk punya akun di Facebook. Kenapa? KArena aku merasa Facebook lebih asyik buatku.

Di dunia web 2.0 ini, aku merasa ada hal yang sedikit mengganggu pikiranku. Walau tak kenal, kita bisa cukup klik Add Friend, lalu klik perintah berikutnya. Lalu kalau ingin kenal, kita cukup klik Approve atau Confirm. Kita berteman tanpa perlu jabat tangan hangat, tatapan mata ramah, suara manusia. Kita hanya berkenalan dengan kata-kata di website berisi profil yang tampak, kadang-kadang profilnya disembunyikan (hidden profile/ nicht sichtbar) dan kadang-kadang tidak ada foto. Kalau ada foto, ukuran wajahnya kecil sampai tak tahu muka orangnya, atau foto ramai-ramai sehingga tak tahu yang mana orangnya, atau foto yang bukan tampangnya, misalnya foto anjingnya, kucingnya, atau bintang film favoritnya, atau yang lain. Aku kadang-kadang merasa temanku ini hanyalah sebuah halaman depan layar monitor bukan manusia. Namun secara virtual, dia adalah manusia di balik layar itu.

Nah, baru-baru ini, aku mengecek Friendster dan facebook. Aku kecewa karena ada fungsi menekan tombol "X" untuk memutus hubungan pertemanan. Aku tidak dianggap teman lagi oleh beberapa orang, baik di Facebook maupun Friendster. Ternyata hanya bermodal "click", dan "you are no longer a friend of mine".

Di dunia nyata juga ada kejadian seperti itu. Kita berteman. Lalu entah karena lupa atau karena tiba-tiba ada konflik, hubungan pertemanan putus. Yah, namanya juga teman. Friends come and go.

Kadang-kadang pedih ditinggal teman. Lebih-lebih kita memiliki memori yang tak mudah dihapus seputar pertemanan itu. Manusia memiliki daya ingat berdasarkan hal-hal yang penting atau tidak penting. Semakin penting suatu hal, maka semakin berada di urutan atas yang dia ingat. Search engine di kepalanya akan selalu menaruh ingatan tersebut di urutan teratas. Semakin tidak penting suatu hal, maka semakin mudah dilupakan. Algoritmanya mirip sekilas dengan algoritma Google dalam mencari suatu hal.

Nah, aku merasa pedih ketika aku mengingat seorang kawan (apalagi kalau cantik) yang melupakanku. Akunya ingat, dianya lupa. Seperti bertepuk sebelah tangan. Well, aku juga pernah melupakan kawan. Tapi karena ingatanku bersifat fotografik dan audio, maka aku sulit melupakan wajah dan suara, namun mudah melupakan nama. Kecuali wajah satu orang yang berusaha kuingat. Andai wajahnya bisa kuingat, pasti langit akan terbuka, dunia akan berbeda, dan aku memperoleh pencerahan sejati.

Realitas manusia adalah pada bahasa. Yang sama dari dunia nyata dan jagad maya adalah cara berkenalan yang sopan harus menggunakan kata-kata. Kirim pesan "saya Condro, dulu kita kenal di…". Atau kalau berkenalan random, bisa kirim pesan "Kamu suka baca …" sebelum kenalan dan ngajak berteman (maksudnya Add Friend). Ada cara berkenalan garing dan sok akrab, "you”re cute. kenalan dong". Lalu ada cara berkenalan tak sopan, yaitu Add friend doang, tanpa kata-kata. Beberapa orang yang kecanduan Friendster atau social networking website lainnya dan senang punya "teman" sebanyak-banyaknya walau tak kenal, memang kaga apa-apa kalau kita langsung tak sopan "Add Friend". Akan tetapi beberapa orang menggunakan akun Friendster, Facebook, dll untuk orang yang dia kenal saja. Orang seperti ini harus dihargai dan kirimlah pesan kepadanya dulu. Akan tetapi Friendster punya fasilitas "Messaging off" yang bikin tidak bisa kirim pesan, gimana dong? Yah, hargailah privasi orang. Mungkin dia tidak suka spam dan tidak suka orang sok akrab.

Aku senang dengan Facebook karena bisa Add Friend sekaligus kirim pesan. Jadi kita bisa tahu siapa dia ketika berkenalan. Berbeda dengan Friendster, pesan terpisah dengan add friend. Jadinya orang kaga menyambungkan antara pesan "saya Condro, kita kenal di…" dengan New Friend Request. Kalau masih kaga ingat, dalam hati aku berkata "Dasar brengsek". Aku paling benci dilupakan. Apalagi kalau yang melupakan itu cantik.

Kembali ke judul di atas, karena semakin lama aku menulis makin kaga nyambung, kamu bisa mengklik untuk dapat teman bahkan bisa jadi teman hidup seperti pengalaman beberapa teman. Syaratnya sih harus kopi darat dulu. Jadi teman dari dunia maya dibawa ke dunia nyata. Kamu bisa juga punya teman (di dunia nyata), buat diajak gabung di social networking website, cukup ketik emailnya lalu klik "invite" atau tombol lainnya yang mirip. What a funny world! Nampaknya berteman di dunia nyata saja tak cukup, sehingga harus dibawa juga ke dunia maya.

Aku sekarang berdoa supaya aku tak dilupakan kawan sebagaimana aku tak melupakan kawan.

Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni sesama kami.

Kembali

August 1st, 2008 by iscab

Mengapa hari-hari ini aku dilanda kekalutan?

Kemampuanku dalam hal merencanakan tiba-tiba rusak. Padahal aku ingin menyelesaikan studi. Aku harus melakukan ini-itu dalam waktu yang terbatas.

Lalu baru saja, aku mendengar dua lagu berhubungan dengan patah hati secara beurutan. Padahal lagu tersebut dihasilkan oleh suatu hal yang random alias acak. Lagu-lagu tersebut adalah "You’re Beautiful" James Blunt dan "Monday Morning" Rialto.

Akhir-akhir ini aku lagi kalut. Setiap kali naik angkot (maksudnya Bus dan Strassenbahn) teringat mantan. Melihat profil cewe-cewe cantik di Friendster, tiba-tiba kok mukanya pada mirip mantan? Mau tidur, tiba-tiba selalu ada bayangan mantan. Padahal aku selalu berusaha ngelanjor cewe bule pirang mata biru atau cewe brunette tapi punya senyum manis kaya Anne Hathaway. Nah, kadang-kadang ada mantan di mimpi.

Sebetulnya dalam lubuk hati yang terdalam aku masih mendambakan mantanku. Tapi di negeri Jerman ini, aku berusaha untuk melupakan mantanku. Satu-satunya cara melupakan mantan adalah cari cewe baru. Akan tetapi karena keluguanku, banyak kesempatan menggaet cewe bule yang terlewat. Aku tak tahu kalau cewe nanya tempat minum kopi artinya dia ngajak minum kopi. Aku tak tahu kalau cewe nanya kapan makan di Mensa lagi artinya ngajak makan bareng. Aku tak tahu cara berkenalan dengan cewe bule di Party. Aku tak tahu "pick up line". Pokoknya aku goblog deh kalau urusan cewe.

Selain itu, kepercayaan diriku sudah disedot habis dengan kasus 2 bulan vs 2 tahun. Aku butuh 2 tahun lebih pedekate untuk bisa mengajak mantanku nonton bareng berdua tapi setelah putus, mantanku cuma butuh 2 bulan untuk nonton bareng dengan cowo lain.

Udah itu, kemarin bertemu kawanku yang menyuguhi film yang ogah kutonton. Ide film itu adalah wanita lebih mudah selingkuh daripada pria. Gila aja kalau aku sampai nonton film kaya gituan. Lagi mau tesis begini, pantang nonton film dengan tema pria patah hati, wanita selingkuh, dan kasih tak sampai. Bisa-bisa aku drop-out, bunuh diri di JErman, jauh dari tanah kelahiran.

In competition in mating and dating, I am always a loser. Akan tetapi ada satu pengecualian, yaitu dengan mantanku yang kemarin.

Seorang teman wanita, jauh-jauh dari Korea mendatangiku ke Bremen untuk menasihatiku bahwa cinta harus diperjuangkan dan cinta akan menemukan jalannya. Aku mencintai mantanku dan ingin memilikinya. Dulu aku berjuang mendapatkan cintanya dengan darah dan air mata tanpa air mani selama 2 tahun lebih. Nasihat temanku ini memberi semangat sedikit supaya aku berjuang agar mantanku balik padaku.

Selalu ada dua pilihan untukku:

Pertama, suatu hari aku akan balik ke Indonesia. Lalu bertemu mantanku. Aku akan berjuang keras memperjuangkan cintanya kembali. Walau dia berkeras hati, aku harus berjuang keras meluluhkan hatinya.

Kedua, aku berusaha mencari pengganti di Jerman. Cuma masalahku satu, aku tak tahu cara berkenalan dengan cewe. Andai aja ada cewe yang "make the first move", gua pasti bakal langsung terima. Kalau gua harus bikin "first move", itu hanya terjadi kalau gua sedang jatuh cinta atau lagi kena cinta pada pandangan pertama. Keberanianku hanya muncul saat aku jatuh cinta.

Kawan-kawan, andai kalian percaya Tuhan itu ada, doakan aku supaya mantanku mau balik padaku.

Kalau Tuhan tidak mengabulkan doa kalian, mudah-mudahan doaku mendapatkan cewe bule yang bisa dibawa pulang ke Indonesia yang terkabul.

Udah, ah. Aku sudah cukup depresi dengan kisah cintaku. Studiku sudah terganggu dengan kekalutan pikiranku. Sekarang aku harus berusaha mencintai C++. Nampaknya aku harus belajar mencintai C++ sebelum belajar mencintai wanita. Menyelesaikan studi jauh lebih penting daripada memiliki wanita.

Sepak Bola Eropa 2008- sebelum Jerman dan Turki bertanding

June 24th, 2008 by iscab

Keberadaanku di Jerman ini membuahkan pengalaman multikulti yang luar biasa. Bertemu teman berbagai bangsa dalam ruang kursus dan ruang kuliah, tak lupa jua Lab.

Piala Eropa ini memberi kesan menarik dari berbagai bangsa.

Seorang Doktor muda dari Prancis, Hubert, merasa bete karena Perancis gagal lolos babak penyisihan. Seorang rekan kerjanya, Thorsten, dari Jerman, mengatakan "French is not good at football". Kukatakan kepada Hubert bahwa bukan tidak jago bola melainkan emang lawannya berat-berat: Belanda dan Italia.

Lalu Thorsten bertanya kepadaku "Mengapa Indonesia tidak main di Piala Dunia?".

Aku jawab asal, "Nanti kita akan main di Piala Dunia, jika aturan kartu merah dan kartu kuning dihapus."

BTW, sepak bola adalah olahraga paling favorit di Indonesia dan kita memiliki banyak penonton setia dan komentator hebat untuk urusan sepakbola.

Alexandra, cewe cantik dari Polandia (sayang sekali udah punya cowo), teman kursusku, kesal sekali ketika Polandia kalah sama Jerman. Yang membobol gawang Polandia dua kali adalah Podolski, yang keturunan Polandia (dan lahir juga di Polandia). Dia lalu berkata, "Podolski jangan balik ke Polandia, pergi sana ke Jerman."

Vlad, dari Ceko, nampaknya pasrah-pasrah saja, karena Ceko gagal lolos babak penyisihan. Aku belum bertanya teman Ceko yang lainnya. Teman-teman kursus yang berasal dari Perancis juga nampaknya pasrah.

Sayang sekali aku tak bertemu kawan-kawan dari Turki. Nampaknya mereka bersemangat sekali pada pertandingan berikutnya, yaitu Semifinal Jerman-Turki. Di Bremen, di wilayah Gropelingen dan Walle, bendera Jerman dan Turki digantung di jendela apartemen. Kadang-kadang jumlah bendera Turki lebih banyak. Mudah-mudahan kalau Turki menang ada Doner gratis.

Temanku dari Kroatia, Olivier, sempat punya semangat yang sama dengan orang Turki. Dia udah senang karena di babak penyisihan, Kroatia menang melawan Turki. Namun Kroatia gagal melawan Jerman lagi gara-gara Turki. Kata-kata penting dari Oliver, adalah "Semoga Indonesia bermain di Piala Dunia, supaya kamu tak lagi mendukung negara lain dalam pertandingan sepakbola".

Mantanku di Bandung mendukung Jerman. Dia mendukung Jerman sejak Piala Dunia. Mudah-mudahan ada hubungannya dengan keberadaanku di Jerman. (bahasa lain: mudah-mudahan dia kangen ama aku yang ada di Jerman -> kok geer banget, ya?). Yah, intinya sih, aku masih ingin balik ama dia lagi. Ok, deh, balik ke sepakbola lagi.

Aku bilang, Jerman itu permainannya membosankan, suka mengulur waktu. Aku suka gemes kapan mereka menendang ke gawang. Pastor Ulrich Hogeman di gerejaku, sampai maki-maki, "kok, kaga nendang ke gawang?". Yah, tapi lumayanlah bisa lolos sampai kini.

Permainan kemarin (Spanyol-Italia) adalah permainan membosankan. Kok, Italia tiba-tiba main kaya Jerman, jarang banget nendang ke gawang. Udah itu, Italia jarang pasang akting di daerah penalty Spanyol. Rasanya sepakbola Italia tanpa akting cowo-cowo ganteng seperti sayur tanpa garam. Hebatnya adalah orang Spanyol yang akting di wilayah penalty Italia, dan kena kartu kuning.

Sara, dari Italia, begitu niat membuat Tiramisu, Spagheti ala Italia, Salat, dll untuk menemani dia dalam mendukung Italia. Namun dia memberi makan para pendukung Spanyol. Untung saja dia pulang pada babak pertama, kalau tidak, kita tak tahu seberapa sedihnya dia.

Michele, teman kursus, dari ITalia, juga udah malas diajak ngomong tentang sepakbola. Yah, rata-rata orang Italia kecewa dengan pertandingan kemarin.

Permainan terhebat adalah Belanda lawan Prancis di babak penyisihan. Dua-duanya semangat, jadi aku sempat mendukung Belanda. Namun sayang sekali, Belanda terjegal Rusia. Yah, yah, pelatih Rusia adalah orang Belanda. Ternyata Belanda memang hebat dalam melatih bola.

Tahun ini, pemenangnya sulit diprediksi. Jerman lawan Turki dan Rusia lawan Spanyol, siapa yang lolos ke babak final?

Turki itu punya pemain yang lari cepat dan tidak ragu-ragu nendang ke gawang. Jerman itu suka lama nendang ke gawang, tapi ujung-ujungnya bisa menang. Jadi aku tak bisa memprediksi siapa yang menang.

Ok, deh, met nonton aja.

MATLAB Mengangap

June 6th, 2008 by iscab

Nah, MATLAB itu punya bugs.

Kalau kaga ada bugs, hidup tidak berkesan.

Kisah ini bermula dari keinginanku, membuat MAtriks Jacobian pada persamaan Denavit Hartenberg untuk lengan robot dengan 7 sendi. Bahasanya kok rumit, ya?

Aku sudah berhasil mempermudah penghitungan Matriks Jacobian untuk posisi ujung lengan robot, bahasa canggihnya adalah end effector. Namun kebingungan dengan orientasi ujung lengan robot. Matriks Jacobiannya terlalu rumit untuk diturunkan, kayanya butuh satu lapangan sepakbola kalau aku menulis dengan tangan.

Aku berpikir gunakan MATLAB Symbolic Toolbox.

Apakah hasilnya memuaskan.

Masalah pertama,

aku mencoba mencari apakah menggunakan persamaan translasi yang diper-"mudah" dan persamaan translasi menggunakan perkalian biasa.

Perkalian biasa artinya 7 matriks frame Denavit Hartenberg dikalikan biasa. Satu matriks frame terdiri dari 4 perkalian matriks, yaitu rotasi terhadap sumbu z, translasi pada sumbu z, translasi pada sumbu x, dan rotasi terhadap sumbu x. Total matriks terlibat adalah 7 kali 4, sama dengan 28 matriks!!!

Persamaan translasi diper-"mudah", adalah mengambil elemen rotasi dari 7 matriks frame saja, dan dikalikan seperlunya dengan elemen translasi dari 7 matriks frame, dengan cara looping sana-sini.

Nah, aku membandingkan kedua cara.

Caranya

Check1 = (Matrix_A == Matrix_B)

Matriks A tidak sama dengan Matriks B.

Mula-mula hasilnya beda, lho?

Lalu aku gunakan "simplify".

Caranya

Check2 = (simplify(Matrix_A) == simplify(Matrix_B))

Hasilnya sama. Oh, ternyata matriksnya harus di-"simplify" dulu.

Ternyata di lain waktu, aku temukan kekacauan simplify ini, yaitu di masalah kedua.

Masalah kedua,

Aku mencoba penurunan. Partial Differential dibutuhkan pada persamaan Jacobian Matrix.

Aku mencoba persamaan

diff(Matrix_A,q1)

lalu q2, q3, dan seterusnya hingga q7.

Lalu aku bandingkan dengan

diff(Matrix_B, q1)

pakai simplify juga, hasilnya beda.

Uniknya lagi ada kasus seperti ini

for nn = 1:7

Check3 = (simplify(diff(Matrix_A, qi(nn)) == simplify(diff(Matrix_B, qi(nn))))

end

for nn = 7:-1:1

Check4 = (simplify(diff(Matrix_A, qi(nn)) == simplify(diff(Matrix_B, qi(nn))))

end

Persamaannya sama cuma urutan increment-nya beda.

Seharusnya hasilnya sama.

Akan tetapi hasilnya berubah-ubah. ada komponen yang sama dan ada komponen yang beda. Dan hasilnya tidak konsisten, kalau aku "Run" berkali-kali.

Ini adalah bugs dari "simplify" pada MATLAB Symbolic Toolbox. Dugaan saya simplify menggunakan algoritma yang memakai random generator dan memiliki time out, sehingga hasilnya belum tentu optimal.

Lalu aku menggunakan "simple" untuk menggantikan "simplify". Hasilnya jadi masalah ketiga.

Masalah ketiga,

Ternyata oh ternyata, "simple" menyebabkan MATLAB is busy dan suhu komputer meningkat drastis dan bunyinya nyaring. Dan bukan hasil yang kudapat akan tetapi komputer yang panas.

Jadi kawan-kawan, kalau MATLAB bilang "simple", itu artinya bukan mudah, dan kalau bilang "simplify", itu artinya bukan mempermudah. Malah bisa mempersulit diri sendiri.

Jadi kawan-kawan semua, memrogram robot itu tidak mudah. Makanya perkembangan robotika kalah cepat dengan perkembangan telekomunikasi. Hanya orang-orang kurang kerjaan saja seperti saya bertekun di bidang robotika.

Another Bugs in VISTA

June 6th, 2008 by iscab

VISTA punya bugs!!!

(sebetulnya banyak)

Kisah ini bermula ketika aku ingin mendaftarkan MAC Address ke kampus. Aku ingin memakai jaringan suatu institut, syaratnya adalah menyerahkan MAC address.

Nah, karena Microsoft Windows VISTA yang kumiliki berbahasa JErman. Aku rada-rada kagok. Aku mencari info lewat Mbah Google, mengingat aku adalah Pemuja Google. Bisa cari "Church of Google", kalau mau tahu agamaku.

Dari Mbah Google kudapatkan wangsit.

Pertama, gunakan "getmac", syaratnya harus masuk Command Prompt dulu. Nah setelah memberikan sesajen. Keluar 3 alamat. Yang mana MAC-nya?

Kedua, gunakan "ipconfig /all", syaratnya sama, harus pakai Command Prompt. Hasilnya keluar banyak alamat, namun lebih detail daripada getmac. Sialnya alamatnya lebih dari 3, karena ada tambahan tunnel LAN address. Apa pula tunnel LAN itu?

Ketiga, gunakan System information pada Windows, syaratnya klak-klik sana sini di Windows. Hasilnya MAC Address-ku adalah "Nicht Verfügbar".

Nah, aku mengikuti saran teman, yaitu lihat MAC Address di bagian bawah Laptop. Aku balikkan laptopku, ternyata ada MAC Address dan WLAN Address.

Jika menggunakan "getmac", maka urutannya adalah MAC Address, WLAN address dan address-address yang virtual.

Jika menggunakan "ipconfig /all", maka urutannya kacau balau. Akan tetapi MAC Address adalah "Ethernet LAN Adapter Physical Address".

Jika menggunakan System Information, lupakan saja, kaga berguna. Serasa ingin banting Laptop.

Dasar Vista gila!!!

(diteriakkan dengan mulut menganga seperti Thukul di Empat Mata)

Kegilaan pertama,

Masa virtual address jadi physical address?

Bahkan Command Prompt pun menganggap hal-hal virtual jadi physical.

Masa Open VPN bisa bikin Physical Address di komputer?

Kegilaan kedua,

Bagaimana bisa System Information pada Windows VISTA gagal mendeteksi MAC Address?

Nah, saran terbaik dari seorang kawan adalah

Gunakan LINUX.

Hidup LINUX!!!

Tentang Mantan

May 28th, 2008 by iscab

Mantan lagi… Mantan lagi…

Bisakah mantan jadi sahabat?

Dari pengalamanku saat ini, kujawab TIDAK. Sebagai sahabat, seorang bisa curhat jujur dan saling membantu. Sebagai mantan, pasti ada rahasia yang disembunyikan dan selalu curiga kepada setiap uluran tangan memberi bantuan. Setidak-tidaknya ini yang kupelajari dari hubunganku dengan mantanku.

Menurut majalah Men’s Health (plus kutambahi sendiri), hal yang dilakukan setelah putus adalah

1. jangan pernah mengontak mantan selama 6 bulan

2. jangan pergi ke tempat favorit mantan selamanya, kecuali bawa pacar baru.

3. menangis, percayalah bahawa air mata membersihkan jiwa.

4. curhat kepada teman, tapi sebaiknya bukan teman yang kenal dekat dengan mantan.

5. Siapkan mental kalau terpaksa bertemu mantan. Mungkin dia memandangmu najis. Mungkin dia bawa monyet baru. Yang jelas mental harus siap.

6. Kenalan dengan banyak orang baru, siapa tahu ada yang bisa jadi pengganti mantanmu.

7. Coba ikut hal-hal yang bisa melepas adrenalin: bungee jumping, terjun payung, climbing, roller coaster, arung jeram, paco, dll. Ini bagus untuk mencegah depresi dan perasaan ingin bunuh diri.

Nah, kebodohan yang kulakukan adalah

1. Percaya bahwa mantan dapat jadi sahabat

2. melanggar aturan 6 bulan tidak kontak

3. tidak mempersiapkan mental dengan baik

4. belum mencoba bungee jumping, terjun payung, arung jeram, paco, dll. Bahkan main sepatu roda pun kaga berani coba.

Jaman ini adalah jaman yang buruk bagi orang yang setia. Jadi sial buatku pria setia yang mengharapkan pacar yang setia. Makanya selama pacaran jangan jadi orang yang setia dan jangan pernah berharap pasangan juga setia. Kalau mau setia, nanti kalau sudah nikah saja.

Aku belajar bahwa aku harus melindungi diri dari patah hati. Makanya jangan pernah menyerahkan segenap emosimu pada seseorang. Simpan hatimu buat yang lain. Jadi kalau putus, masih ada emosi tersisa.

Terima kasih mantanku, kau telah mengajariku untuk tidak percaya dengan cinta dan kesetiaan.

I have no pity

May 27th, 2008 by iscab

‘I have no pity’

Itu kata-kata psikopat di film Red Dragon. Film ini adalah prequel dari Silence of the Lamb.

Sebagai psikopat, Red Dragon tidak punya moralitas, tidak punya rasa kasihan, dan tidak pernah ragu-ragu. Dia membunuh orang tanpa kasihan.

Sewaktu ada cewe buta yang berkata kepada Red Dragon, "Biasanya orang memandangku dengan iba, mereka mengasihaniku, tetapi kamu berbeda". Red Dragon berkata "I have no pity". Cewe buta tersebut tak mengerti maksudnya, tapi dia tertarik dengan Red Dragon.

Kata-kata "I have no pity" ini betul-betul selalu kuingat. Rasanya hidupku lebih tenang kalau aku jadi psikopat. Tidak perlu memikirkan moralitas. Tidak perlu punya rasa belas kasihan.

Kalau aku jadi pemimpin yang psikopat, aku akan naikkan harga BBM langsung mengikuti harga pasar, tanpa peduli dengan kesengsaraan rakyat. Jadi tidak ada keraguan sama sekali.

Ada yang demo? Tembak saja langsung. Aku kan psikopat.

Tapi aku tidak bodoh. Aku akan menggunakan intel untuk melakukan provokasi, melempar molotov, merusak sana-sini, lalu ketika terjadi eskalasi, mahasiswa-mahasiswa lugu yang demo bisa kutangkap dan kutuduh sebagai provokator. Aku tidak punya belas kasihan, aku kan psikopat.

Sebagai psikopat, aku akan mencapai tujuan dengan segala cara. Tanpa keraguan. Tanpa rasa kaga enak hati. Tanpa peduli ada orang lain yang jadi korban ulah kita. Semua orang yang menghalangi jalanku akan kuhabisi, tanpa perlu memikirkan moralitas.

Sayang sekali aku bukan psikopat.

Aku ingin sekali jadi psikopat. Aku ingin menumpulkan nuraniku. Aku ingin bisa jadi psikopat.

Sayang sekali aku terlalu ragu-ragu untuk jadi psikopat.

Ingin aku bisa percaya

May 27th, 2008 by iscab

Ingin aku bisa percaya

***

Dulu aku percaya pada-Mu

Kauberi aku harapan

Kauberi aku keberanian

Kauajari aku kasih sayang

Kauajari aku kesabaran

Tapi ternyata kusadari semuanya semu

Ternyata apa yang kupercayai selama ini tidak ada maknanya

Kaubuat aku berdoa pada-Mu setiap hari

Kaubuat aku senang membaca Kitab-Mu

Namun ternyata tidak ada maknanya sama sekali

Semua harapanku musnah

Keberanianku hilang

Aku sudah tak bisa merasakan cinta lagi

Sepertinya Kauambil semua yang kumiliki

Entah masih ada yang tersisa atau tidak

Secara Gila

January 10th, 2008 by iscab

Secara Gila

Akhir-akhir ini aku sebal kalau dengar atau baca kata "secara".

"Secara" bisa dipakai sebagai pengganti "since" (Bahasa Inggris) atau "karena" atau "sebab". Dalam bahasa Jerman artinya "wegen" atau "weil" atau "denn". Makna "secara" di sini adalah makna kausalitas.

Lalu timbul pula arti kata "secara" yang artinya "otherwise" (Bahasa Inggris) atau "selain". Hal ini menggunakan kata "secara itu". Dalam bahasa Jerman artinya "trotzdem", "ausserdem", atau "trotz". Makna "secara" di sini adalah makna pertentangan.

Percayalah bahwa dalam bahasa Jerman dan Inggris, kata yang sama tidak bisa dipakai sekaligus untuk kausalitas dan kalimat pertentangan.

Bisa gila, aku!

Aku cuma meninggalkan Indonesia sebentar, belum 2 tahun, sudah ada perubahan penggunaan kata "secara".

Dalam bahasa Indonesia baku, setahuku, kata "secara" punya makna beberapa macam:

- "satu cara" = 1 cara

- "dengan cara"

- "sama cara"

cara di sini artinya bisa "method" atau "way" (Bahasa Inggris).

Mungkin dalam bahasa gaul, ada kata baru yang namanya "secara" yang bukan berasal dari kata "cara", yang penggunaannya bisa dipakai untuk sapu jagad di semua kalimat, yang penting dipasang di awal kalimat supaya kelihatan modern dan gaul.

Paling kasihan dengan orang bule yang belajar Bahasa Indonesia. Di ruang kelas, mereka bersusahpayah belajar Bahasa Indonesia baku: belajar imbuhan standar, pasif-aktif, transitif-intransitif, dll, dengan buku diktat seadanya. Tapi sampai Indonesia, mereka melongo, mendengar orang bicara bahasa gaul Indo yang tak mereka mengerti. Akhirnya orang-orang bule tersebut lebih mahir berbahasa Jawa, dari Jawa Ngoko hingga Kromo Hinggil, daripada Bahasa Indonesia.

Kebetulan di Uni Bremen, Jerman, kulihat diktat tipis Pelajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing. Tidak ada buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau melihat rak-rak buku lainnya, ada berbagai buku pelajaran bahasa asing lainnya: Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, Arab, Polandia, dll. Sepertinya orang-orang dari negeri itu, lebih rapi, apik, dan profesional dalam menyebarkan budayanya. Mereka sepertinya sadar bahwa bahasa adalah salah satu kekuatan besar budayanya.

Pemerintah, universitas, pers, dan pasar nampaknya selalu kompak dalam berbahasa baku di negara-negara pengguna bahasa Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, Arab, dll. Di Jerman ada standar Hochdeutsch yang dipakai institusi pemerintahan, surat kontrak (pasar), universitas, sekolah, koran, dll. Di Indonesia, bahasa baku cuma ada di perpustakaan universitas dan sekolah. Maksudnya, cuma ada di buku Kamus Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Indonesia, Kaidah Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, dan beberapa buku mirip. Tapi guru bahasa Indonesia bisa beda-beda dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu, media juga berbeda-beda dalam berbahasa Indonesia. Pasar dengan iklan-iklannya juga menunjukkan bahasa-bahasa Indonesia tidak baku. Surat-menyurat resmi bisa juga kacau balau dalam berbahasa, sampai orang tidak tahu mana yang baku.

Bahasa Indonesia memang bahasa kaum anarkis. Tidak ada pedoman tunggal yang dipakai bersama. Semua orang (baca pengguna bahasa) bisa memodifikasi bahasa seenaknya. Yang penting didukung rame-rame (beramai-ramai). Kekuasaan berada di tangan pengguna, bukan akademisi, bukan ahli bahasa yang dulu pernah berkumpul membentuk Ejaan Yang Disempurnakan, juga bukan Pemerintah. Nampaknya anomi dalam berbahasa Indonesia juga klop dengan anomi dalam kehidupan sosial politik di Indonesia.