Archive for November, 2006

Thomas Tatang

Thursday, November 30th, 2006

siapa itu Thomas Tatang?

Dia adalah guru kimia ketika aku masih 1 SMA eh SMU. Orang Sunda mengajar kimia. Betul-betul hebat.

Apa saja kehebatannya?

Pertama, dia selalu menyebut nama unsur-unsur kimia, terutama logam-logam golongan IA dan IIA dengan suara yang mirip dengan kata "peuyeum". Natrieum, Lithieum, Magnesieum, Barieum, Helieum (He bukan gol IA melainkan VIIIA), dll. Pokoknya peuyeum banget, deh.

Kedua, dia punya penyakit P kuadrat = nRT. Sama seperti kebanyakan orang Sunda, dia sulit menyebut F dan V, semua dianggap P. Jadinya PV=nRT menjadi PP=nRT. Hasilnya P kuadrat = nRT.

Ketiga, akibat penyakit yang sama dengan kedua, nama ahli kimia dari Eropa Timur menjadi Cecep Mendeleyep, yang seharusnya Mendeleyev. Sampai temanku tega-teganya bilang "Dasar Kampung!". (Sebetulnya kata-kata Cecep itu aku tambahkan, setiap kali dia bilang Mendeleyep, pasti ada yang nyeletuk ‘Cecep’)

Keempat, dia paling senang dengan ulangan mendadak. Tiba-tiba datang memberi ulangan kimia, mengisi tabel sistem periodik. Wah, murid-murid pada bete. Mana mungkin hapalan dijadikan bahan ulangan mendadak. Yah, kita akhirnya belajar bahwa kita setiap hari harus selalu siap menghadapi semua ulangan mendadak. Emangnya pelajaran cuma kimia, doang?

Kelima, kata-kata dia ketika menangkap seorang siswa yang mencontek, "Saya tidak peduli kamu anak pejabat, anak orang kaya, bla… bla… bla… kamu harus bla… bla… bla…".

Keenam, kebiasaannya memakai baju Safari abu-abu atau biru gelap. Sepertinya baju itu, baju kesayangannya. Sejak 1998, dia tidak pakai baju Safari lagi. Mungkin Orde Soeharto telah berakhir.

Ketujuh, aku cukup puas diajar olehnya. Dia sering memeragakan banyak hal di kelas. Dan berkat dia, aku bisa seperti sekarang ini. Masih ingat beberapa sistem periodik (minimal Golongan A). Wah, tanpa dia, belajar di SMA Aloysius Bandung (yang jalan Sultan Agung) kaga bakal berkesan.

Cinta tak harus memiliki?

Tuesday, November 7th, 2006

Cinta tak harus memiliki?

Ah, yang benar saja.

Jika kamu berpikir cinta tak harus memiliki, itu bisa dua macam artinya.

Pertama, kamu memang memutuskan untuk hidup selibat, macam pastor Katolik atau biksu. Memang kamu sudah berkomitmen untuk tidak menikah.

Kedua, kamu adalah orang yang tidak menghargai komitmen.

Lembaga pernikahan dibentuk manusia untuk mengukuhkan ikatan kepemilikan. Ketika dua orang manusia memutuskan untuk saling memiliki, maka biasanya ada yang namanya komitmen. Komitmen dimulai dalam ‘ikatan perjanjian tak tertulis antara dua orang’ yang bernama ‘pacaran’ kemudian menjadi ‘ikatan yang tertulis dan tak tertulis yang diakui dan disaksikan oleh banyak orang (termasuk institusi negara dan lembaga agama)’ yang bernama ‘pernikahan’.

Cinta tak harus memiliki?

Yang benar aja?

Emangnya kau mau jadi Kahlil Gibran dengan cinta platoniknya?

Tidak memiliki memang berhubungan dengan kebebasan. Tanpa komitmen berarti orang memang bebas.

Tapi dalam kebebasan itu, apakah kita merasa bahagia?

Melihat seseorang yang kita cintai tidak dapat kita miliki, bahagiakah kita?

Gonta-ganti pasangan tiap hari, bahagiakah kita?

Jika kita membiarkan seseorang yang kita cintai bahagia bersama yang lain, maka itu berarti kita menghargai komitmen dia untuk bersama dengan yang lain. Tapi itu bukan berarti cinta tak harus memiliki. Karena dia yang kita cintai sudah punya kepemilikannya. Dan kita hormati keputusannya itu.

Namun kalau betul-betul cinta, sebaiknya tetap berjuang untuk memiliki. Tentu saja perjuangan untuk merebut kepemilikan atas nama cinta, juga memiliki batas-batas tertentu. Contohnya sih, jangan sampai menghancurkan lembaga pernikahan dan juga jangan merusak persahabatan.

Cinta memang anugerah Tuhan yang cuma-cuma.

Namun kepemilikan hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang memperjuangkannya.

Kalau ada orang yang bilang cinta tak harus memiliki, bilang aja,

‘untukmu agamamu, untukku agamaku’

Manifesto Jomblo:

Jomblo sedunia bergeraklah, dari pabrik turun ke jalan, dari jalan menuju revolusi cinta, mari kita wujudkan kepemilikan bersama atas alat produksi, eh salah alat reproduksi. Mari kita memperjuangkan kepemilikan.

Mimpi anehku

Friday, November 3rd, 2006

Baru-baru ini aku bermimpi aneh.

Aku bermimpi, aku berada di sebuah konser musik.

Mimpiku adalah tentang musik, lagu ‘Layang-layang’ yang dinyanyikan oleh Overload Romance, yang beraliran disko, dijadikan lagu dangdut 70-an. Aku bermimpi lagu itu dinyanyikan oleh seseorang yang berpenampilan Rhoma Irama dan band-nya.

Mimpi menggambarkan adanya hal-hal yang terpendam dalam diri. Mungkinkah lagu Layang-layang itu menggambarkan hasrat seksualku yang terpendam. Lagu Layang-layang selalu bercerita tentang pria yang menjadi korban ‘two-time’.

‘Orang bilang cinta itu adalah pilihan/

tapi aku olehmu seolah dibuang sayang/

kalau kau memang cinta,

mengapa kau masih jalan dengan dirinya,

kalau kau memang sayang,

mengapa kau tetap menjadi kekasihnya’

Begitulah isi lagu Layang-layang. Mungkin ada perasaan yang mirip dalam lagu itu dengan perasaanku ketika menyadari bahwa cewe yang kusayang sedang berjalan bersama yang lain.

Hidup harus berjalan, begitulah selalu yang kukatakan kepada diriku. Segenap rasionalitas dan pikiran logis, ternyata tak bisa menghilangkan hasrat terpendam. Hasrat terpendam yang berusaha dikendalikan dengan rasionalitas selalu ada dalam alam bawah sadar, dan keluar lewat mimpi-mimpiku. Dasar Freud dan Jung, bikin teori aneh-aneh.

Yang aku bingung, mengapa ada Rhoma Irama?

Apa hubungan antara Rhoma Irama dengan hasrat seksual?

Rhoma Irama adalah simbol pria yang berusaha menempatkan libido sebagai suatu hal yang buruk bila berada di ruang publik dan baik bila di ruang privat.

Rhoma Irama juga simbol pria yang menempatkan wanita sebagai objek, yang tidak lebih sebagai hak milik, yang bisa dibuang dan diganti kapan saja.

Rhoma Irama juga simbol pria yang menganggap tubuh wanita adalah suatu hal yang buruk, membuat dosa, dll.

Rhoma Irama juga adalah simbol kekuasaan patriarkis, yang menempatkan tubuh wanita sebagai tanah kekuasaan dan hanya berharga bila tubuh tersebut memberikan manfaat.

Rhoma Irama adalah simbol distorsi moral, di satu sisi dia ingin mengekang libido dalam ruang publik, namun di satu sisi dia gonta-ganti istri untuk memuaskan libidonya. Untuk mendukung  tindakannya, dia menggunakan suatu hal yang abstrak, yaitu agama.

Mungkinkah ada Rhoma Irama dalam diriku?

Mungkinkah gambaran Rhoma Irama seperti itu juga adalah bagian dari hasrat seksualku?

Jujur saja, walau secara rasional aku banyak dipengaruhi feminisme namun ada hasrat seksualku dan ada sisa-sisa kebiasaan patriarkis dalam diriku yang membuatku ingin menguasai banyak wanita.

Namun secara realitas aku tak berdaya, seperti lagu Layang-layang dari Overload Romance. Semua wanita yang kusayang selalu mengakhiri cerita dengan kejadian aku ditinggalkan, aku diduakan, dsb.

Ada pepatah, masalah terbesar di dunia adalah diri kita sendiri.

Mungkin inilah dialektika dalam hidupku, aku harus terus memperbaiki hidupku, dan terus mencoba lagi mencari seorang wanita yang bisa menyelamatkan diriku dari kesendirianku ini. Soundtrack yang paling tepat adalah lagu ‘Save Me’ yang dinyanyikan Remi Zero untuk Smallville.

Wanita Penyelamat dimanakah engkau?