Archive for June, 2007

Tips Beasiswa

Friday, June 29th, 2007

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri

1. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang (kata Aa Gym)

a. Saat mencari beasiswa, saya harus tahu saya maunya apa, dan mau studi apa dan di mana. Misalnya, saya sekarang mahasiswa Teknik Elektro. Saya mau studi tentang kontrol. Maka saya harus cari-cari info tentang ilmu kontrol ada di universitas mana dan negara mana. Setelah dapat infonya, cari-carilah info tentang beasiswa ke negara itu.

Pengalamanku dulu, aku kelamaan mendapat beasiswa, karena tidak tahu mauku apa. Tahun 2002, baru belajar bahasa Jerman. Selain itu, kaga tahu mau milih jurusan apa di Jerman.

b. Ketika saya sudah punya rencana ingin studi X di negara Y, maka dari sekarang, saya harus belajar bahasa negara Y. Juga belajar bahasa Inggris hingga TOEFL sekian-sekian (disarankan di atas 600 paper based, 250 computer based - CBT, 100 Internet Based - IBT).

Pengalamanku TOEFLku cuma 243 CBT. Sulit pergi ke Amerika dan Canada, jadi pilih Jerman aja.

c. Dari sekarang mulailah dulu dengan mengumpulkan nilai bagus untuk mata kuliah. Biasanya syarat IPK diperlukan.

d. Ikutilah organisasi dan ambil jabatan penting. Hal ini bertujuan untuk melatih kepercayaan diri, kemampuan komunikasi kita dengan orang lain, tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, memperluas wawasan dan jaringan, serta mengisi CV.

e. Ikutilah kontes-kontes bermutu. Di CV akan tampak indah kalau kita melibatkan diri dalam lomba menulis, olimpiade matematika, kontes robot, dll. Kalau menang, lebih indah lagi.

f. Rajin menulis. Percayalah bahwa kemampuan menulis letter of purpose diperlukan oleh para pemburu beasiswa. Selain itu, beberapa beasiswa menuntut kita punya tulisan ilmiah.

2. Mata Elang, Kuping Anjing

Maksudnya, kita harus mencari-cari info tentang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri. Biasanya didapat di

a. Koran

Baca koran, jangan cuma baca berita pemerkosaan aja, tapi juga baca peluang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri.

Pengalamanku dulu, aku dapat info beasiswa dari perusahaan migas di Arun, Aceh dan beasiswa ke Singapura: ASEAN Scholarship dari koran KOMPAS.

b. World Wide Web (www)

Jaman sekarang Google dan Yahoo punya fasilitas mencari yang bagus. Tinggal gunakan kata kunci: scholarship, maka semua akan keluar. Yang penting kesabaran dan ketekunan dalam membaca saja.

Kalau mau ke Jerman, harus tahu kata kunci seperti DAAD, Stipendium, letter of motivation, Motivationsbrief, dll.

c. Milis beasiswa

Salah satu milis adalah beasiswa@ahoogroups.com. Milis ini cukup membantu pencari beasiswa. Bagi pencari beasiswa yang masih ingusan (maksudnya pemula), sebaiknya baca-baca dulu isi milis, gunakan fasilitas search message. Milis ini dimoderasi, jadi pengirim email, yang menanyakan hal-hal lugu dan culun serta mengirim email tidak pantas, tidak perlu dongkol atau marah kalau moderator tidak melanjutkan emailnya. Yang penting ikuti aturan main milis.

Pengalamanku dulu, tidak semua emailku tampil di milis ini. Dan tidak semua pertanyaanku dijawab di milis ini.

d. Bisik-bisik

Selain dari sumber di atas, kuping kita harus setajam kuping anjing. Kadang-kadang kita tidak berlangganan koran tertentu, juga tidak ikut milis, nah, cerita orang tentang beasiswa juga perlu ditanggapi. Kalau kita dengar ada beasiswa X, maka segeralah cari info di milis dan web.

e. Lembaga beasiswa

Lembaga beasiswa biasanya punya situs resmi di Internet, punya orang yang siap ditanyai (via email dan telepon). Lembaga ini juga punya otoritas untuk menjawab pertanyaan khusus. Misalnya,

- gimana kalau IPK saya kurang dikit,

- gimana kalau saya sulit dapat surat ini, boleh pakai surat yang lain kaga,

- gimana kalau TOEFL saya cuma segini,

- gimana kalau saya tiba-tiba hamil,

- dll

Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Amerika misalnya Ford Foundation, Aminef, IIEF, dll.

Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Jerman misalnya DAAD, KAAD, Goethe Institute, dll.

f. Perwakilan asing di Indonesia

Kedutaan Besar dan Konsulat dari negara lain juga punya info tentang studi ke luar negeri, beasiswa, hingga cara pengurusan visa. Pokoknya lengkap secara administrasi kenegaraan.

3. Hidup adalah perjuangan

a. Tantangan

Mencari beasiswa juga berarti kita harus berjuang untuk

- mendapatkan surat rekomendasi dosen

- belajar bahasa

- mendapat nilai bagus

- mengarang essay (letter of purpose/letter of motivation)

- bolak-balik kantor pos

- kontak sana-sini

- persiapan wawancara

- mengisi CV (maksudnya hal-hal yang menonjolkan kelebihan kita, bisa ditaruh di CV)

- menghadapi birokrasi

- dll

b. Hukum Pareto

Hukum Pareto adalah 80:20, yang artinya

- dari 10 lamaran beasiswa, yang dipanggil cuma 2, 8 langsung ditolak

- dari 10 wawancara beasiswa, yang diterima cuma 2, sedangkan 8 ditolak

Tapi tidak separah itu, kok.

Pengalamanku dulu, aku melamar 2 beasiswa untuk S1 selama kuliah ITB, hanya 1 yang diterima. Aku melamar 5 lamaran beasiswa ke luar negeri, hanya 1 diterima, sehingga aku bisa studi di Jerman sekarang.

Pengalaman temanku macam-macam. Ada teman yang hanya mengirim 1 lamaran beasiswa ke Jerman langsung diterima. Ada yang butuh 11 tahun mengirim sekitar 30 lamaran beasiswa, dan hanya 1 kali dapat, sehingga bisa studi di Jerman. Yah, hidup itu perjuangan.

4. Tonjolkan kelebihan, jelaskan kekurangan

a. Jika punya kelebihan, maka harus ditonjolkan saat kita menulis CV dan Letter of Purpose. Misalnya punya IPK tinggi, lulusan terbaik, pernah menang lomba, jadi ketua ini, jadi bendahara itu, dll.

b. Jika punya kelebihan, siapa tahu di wawancara beasiswa bisa disebut.

c. Jika punya kekurangan, kadang-kadang hal ini ditanyakan dalam wawancara beasiswa. Maka kita harus punya alasan rasional dan logis, serta dijawab dengan penuh rasa percaya diri.

Misalnya:

- kenapa ada nilai rendah untuk mata kuliah ini? Kita bisa jawab, waktu itu kita sakit, bekerja, dll sehingga tidak bisa konsentrasi saat ujian, lalu kita tidak boleh mengulang di semester berikutnya.

- kenapa kuliahnya lama? Kita bisa jawab, waktu itu saya bekerja sambil kuliah, dll.

- dll

5. Sediakan uang

Siapa bilang melamar beasiswa gratis?

Siapa bilang setelah dapat beasiswa kaga keluar uang?

Kamu perlu uang untuk

a. pos

mengirim surat lamaran lengkap dengan semua dokumen biasanya pakai pos.

b. TOEFL (dan GRE, GMAT, atau IELTS)

Untuk ikut test bahasa Inggris TOEFL atau Jerman Zertifikat Deutsch (ZD), butuh uang test. Kalau tak salah di atas 100 dollar untuk TOEFL. GRE dan GMAT lebih mahal daripada TOEFL.

Oh, ya, kursus bahasa supaya kemampuan bahasa meningkat juga pakai uang.

c. Internet

Karena internet di Indonesia lumayan mahal, kira-kira sejam pakai Internet bisa habis Rp 10.000,- dengan kecepatan lambat, sediakan uang cukup untuk cari informasi via Internet.

d. Visa

Mengurus visa itu di Jakarta. Kalau lembaga beasiswa yang bagus, biasanya kita cukup kirim paspor ke lembaga beasiswa, dan biarlah dia yang urus. Kalau tidak, wah, kita harus sedia uang untuk transportasi ke Jakarta.

e. Paspor

Mengurus paspor itu ada biayanya. Biaya resmi bisa dilihat di kantor imigrasi. Kalau resmi, waktu yang diperlukan membuat paspor adalah 2 minggu. Ingin pakai calo? Maka perlu ada tambahan biaya lagi, tapi paspor bisa jadi 2-3 hari. Ini paspor hijau.

Kalau paspor biru, atau paspor dinas, urusannya juga panjang. Perlu surat ini-itu. Aku tidak bisa komentar soal ini.

f. Fiskal

Lewat bandara artinya kita harus bayar fiskal kecuali kalau sebelumnya sudah mengurus pembebasan fiskal atau membuat paspor dinas yang warnanya biru. Fiskal jamanku masih Rp 1 juta.

Pengalamanku dengan Beasiswa

Friday, June 22nd, 2007

Pengalamanku dengan Beasiswa

Suatu hari di bulan Agustus 1998.

Aku mengantri di Gedung Serba Guna (GSG) ITB. Aku telah lulus UMPTN dan mendaftarkan diri di Jurusan Teknik Elektro ITB. Aku datang jam 10 siang, karena telat bangun. Lalu kena deh antrian panjang. Aku harus membulat-bulati formulir dengan pensil 2B. Dari nama, tanggal lahir, asal sekolah, hingga suku harus diisi. Sialnya ketika foto dicap, ada cap kena gambar muka yang hasilnya aku harus pakai Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang gambar mukanya kaga jelas selama 5 tahun. Aku dapat NIM 13298140, yang artinya

1, pendidikan Sarjana S1

3, Fakultas Teknologi Industri

2, Teknik Elektro

98, angkatan 1998

140, aku pendaftar urutan ke-140 untuk jurusan Teknik Elektro

Nah, setelah melalui meja 1 (ambil formulir), meja 2 (masukkan formulir terisi, foto dicap, plus syarat administratif), sampailah aku pada meja 3 (keuangan). Di meja ini aku ditagih uang pendaftaran, SPP-PRP (aku lupa singkatan apa), dll. Aku lalu memohon beasiswa dari ITB. Lalu orang tersebut menyuruhku ke meja lain. Aku menuruti kata-katanya, dan di sana seorang dosen memberi formulir yang harus kuisi. Aku isi form itu dan dia bilang tunggu surat. Kemudian aku melanjutkan ke meja-meja lain lalu selesailah acara pendaftaran dan aku bisa keluar GSG.

Beberapa hari kemudian, aku dapat surat yang menyuruhku pergi ke BAK (B Administrasi Akademik, waktu itu masuknya melalui Villa Merah). Aku dapat pembebasan SPP. Jamanku dulu uang kuliah di ITB:

SPP Rp 225.000,-

PRP Rp 225.000,-

Lain-lain Rp 22.500,- hingga Rp 25.000,-

Total Rp 475.000,-

Karena aku dapat semacam beasiswa (pembebasan SPP) dari ITB, maka selama 4 tahun aku hanya membayar Rp 250.000,-

Memohon beasiswa dari ITB pada jamanku itu relatif mudah, hanya bilang di meja penagihan uang saat pendaftaran masuk, "Saya memohon beasiswa". Lalu isi formulir, tunggu hasil.

Tahun 2001.

Aku sudah jadi mahasiswa ITB. Aku mengajukan lamaran beasiswa dari perusahaan migas di Aceh. Syarat transkrip, surat rekomendasi, dll, pokoknya lengkap, deh, kukirim. Ada 100 orang yang akan menerima beasiswa, aku termasuk 200 kandidat yang akan diseleksi dengan wawancara.

Saat itu, aku tidak merasa siap dengan wawancara. Mentalku lagi jatuh, karena patah hati, terlalu sibuk kerja praktek, dan terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi. Surat panggilan wawancara juga kaga sampai, aku dapat info panggilan wawancara via telpon "Lusa wawancara". Selain itu, situasi politik Indonesia lagi panas. Gus Dur hendak dijatuhkan dan buruh di Bandung sedang ditekan serta banyak demo BBM. Kawan-kawanku bahkan dipukuli dan ditahan polisi. Pikiranku ruwet.

Hari wawancara tiba. Aku salah kostum. Yang lain pada pakai kemeja lengan panjang, celana panjang dari katun, dan sepatu resmi. Sedangkan aku pakai baju kaos berkerah warna hijau lumut, celana kargo warna hijau lumut, dan sepatu basket warna hitam dengan jendolan oranye. Tambah hancur, dengan tampangku yang kusut.

Hari itu, aku bertemu kandidat lain dari banyak universitas. Ada yang ketua BEM STT Telkom, ketua ini-itu, dll. Sedangkan aku ikut banyak organisasi tapi hanya sebagai penggembira, kecuali ada satu organisasi jadi Bendahara.  Aku jadi agak-agak minder.

Aku diwawancara dua orang. Ketika duduk, aku menyenggol gelas lalu isinya tumpah mengenai si pewawancara. Lalu aku jadi grogi. Pertanyaan wawancara yang kuingat adalah apa yang akan kulakukan 5 tahun mendatang. Karena saat itu aku masih goblok, aku jawab tidak tahu. Lalu, aku lihat dia membulati nilai Sistem Kendaliku yang D pada transkrip, lalu bertanya tentang kuliah, nilai, dsb. Andai waktu itu, aku sudah ikut milis beasiswa@yahoogroups.com mungkin ceritanya beda.

Hasilnya kuketahui sebulan (atau 2 bulan?) kemudian. Aku tidak dapat beasiswa itu. Dari situ aku belajar banyak hal tentang wawancara:

1. siapkan diri untuk menghadapi pertanyaan tentang rencana ke depan (5, 10, 15 tahun), prestasi akademik, pengalaman organisasi, dll.

2. jangan salah kostum

3. jangan patah hati saat wawancara, karena efeknya mantap dalam menurunkan kepercayaan diri.

4. Jangan menumpahkan minuman pewawancara.

Akhir tahun 2002 dan awal tahun 2003.

Aku masih dalam masa patah hati. Saat itu, aku pusing dengan TA (Tugas Akhir) yang belum kelar. Aku mencoba untuk selesai TA, untuk sidang Januari dan wisuda Februari. Tapi aku mencoba mendaftar beasiswa DAAD Siemens 2003. Semua syarat kecuali bukti kelulusan dan bukti pendaftaran ke Uni di Jerman kukirim ke DAAD Jakarta.

Waktu itu, aku ingin juga bingung mau pilih jurusan apa di uni mana, karena banyak opsi. Minatku saat itu tertuju pada jurusan Mekatronika TUHH (di Hamburg) dan Automotive Engineering FH Eslingen.

Januari 2003, aku ditelpon Ibu Endah, DAAD Jakarta, dia minta syarat tanda lulus. Aku tidak bisa mengirimkannya karena belum lulus. Aku juga ternyata kaga bisa sidang Januari, malah stress sampai sesak napas, halusinasi, dll. Aku email Ibu Endah, dan bilang aku batal mengajukan lamaran beasiswa karena banyak syarat yang tidak bisa kuturuti.

Hasilnya, kawan-kawanku yang punya IPK 3,7 dan 3,8 pada dapat beasiswa DAAD Siemens. sedangkan aku tidak dapat beasiswa itu. Aku belajar lagi beberapa hal.

1. melamar beasiswa butuh persiapan dan perencanaan matang, jangan asal-asalan, nanti buang uang buat pos.

2. aku harus tahu apa yang kumau, maksudnya harus punya tujuan jelas mau jurusan apa dan di mana.

3. jangan patah hati saat melamar beasiswa, karena efeknya mantap dalam menurunkan percaya diri dan membuat orang kehilangan tujuan hidup.

4. jangan obral janji kepada pemberi beasiswa, bakal lulus bulan depan padahal belum tentu.

Akhir tahun 2003 dan awal tahun 2004.

Aku sudah tidak patah hati lagi, malah sedang jatuh cinta (fotonya bisa di lihat di friendsterku). Aku juga sudah lulus dari Teknik Elektro ITB menjadi Sarjana Teknik, spesialisasiku Kontrol. Aku juga sudah punya Zertifikat Deutsch, suatu sertifikat kemampuan berbahasa Jerman tingkat dasar. Aku pun berlangganan milis beasiswa. Persiapanku untuk melamar beasiswa lebih matang, namun masih kurang mantap.

Kali ini, aku mencoba beasiswa DAAD Siemens lagi, ditambah coba beasiswa ASEAN di NTU (Nanyang Technological University, Singapura). Tapi ada aja ketidaksiapanku, yaitu TOEFL (dan GRE).

Aku kaga pede dengan TOEFL. Aku latihan TOEFL. Aku coba ikut kursus GRE. Dapat beberapa pandangan tentang cara menulis yang baik. Tapi saat itu, aku lagi di persimpangan jalan, aku lagi bingung dengan tujuan hidup. Aku lagi keracunan MLM (multi level marketing). Aku bingung mau studi lanjut atau serius MLM. Jadinya waktu belajar buat TOEFL kurang. Aku juga telat ujian TOEFL.

Gara-gara TOEFL telat, maka formulir pendaftaran ke Uni juga kukirim kaga pas dengan tenggat waktu (deadline) beasiswa DAAD. Tidak telat bagi Uni di Jerman, tapi cukup telat buat DAAD.

Hasilnya?

Aku sukses masuk waiting list, kaga dapat beasiswa DAAD Siemens. Sialnya, lawan-lawan politikku di kampus pada dapat. Lalu beberapa bulan kemudian datang surat berturut-turut:

Dari TUHH (Hamburg), aku diterima di jurusan Telekomunikasi untuk Oktober 2004, kaga diterima di Mekatronika. Sebelumnya aku daftar 2 jurusan tersebut di sana.

Dari Uni Duisburg-Essen, aku diterima di jurusan Kontrol untuk Oktober 2004. Tahun sebelumnya, jurusan ini kaga masuk dalam tawaran beasiswa DAAD Siemens.

Dari Uni Bremen, aku diterima di jurusan Otomasi untuk April 2005. Tahun sebelumnya jurusan ini juga kaga masuk tawaran beasiswa DAAD Siemens.

Dari NTU Singapura, aku diterima di jurusan Kontrol, tapi kaga dapat beasiswa.

Gagal lagi deh dapat beasiswa. Tapi setidak-tidaknya aku sudah tahu tambah pede karena ternyata aku bisa juga diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Aku belajar lagi beberapa hal:

1. aku harus tahu yang kumau.

Aku tahu bahwa aku punya mimpi studi lanjut di bidang kontrol. Namun aku masih belum tahu tujuan hidup jelas, mau jadi pedagang MLM atau tetap ikuti mimpiku studi lanjut.

2. jatuh cinta membuatku kreatif dan makin percaya diri

3. kepercayaan diriku tumbuh, saat sadar bahwa aku bisa diterima di Uni, walaupun gagal dapat beasiswa.

Akhir tahun 2005 dan awal tahun 2006.

Aku bukan mahasiswa lagi, aku jadi dosen di Unika Soegijapranata Semarang. Mimpiku untuk studi di luar negeri tetap membara. Kali ini, masalahnya bukan dari diri sendiri (seperti tidak percaya diri), tapi dari luar. Kesibukan kerja, sistem kerja, dan rekan-rekan kerja kadang-kadang melakukan sesuatu hal yang menghambat orang untuk maju.

Berkat dukungan Bapakku dan kawannya yang tinggal di Jerman, semangatku tumbuh. Kawan bapakku jauh-jauh dari Neuwied, Jerman menelponku untuk menyemangatiku serta memberi tips-tips via email cara menulis statement of purpose yang benar.

Aku lalu mencoba beasiswa DAAD dan KAAD. Aku tidak peduli dengan tantangan dan hambatan. Selain itu, aku juga dapat kiriman surat dari Uni Bremen bahwa aku tetap diterima untuk April 2006 di jurusan Otomatisasi.

Untuk beasiswa DAAD, aku harus mengirim dokumen ke DAAD Jakarta dan DIKTI. Untuk beasiswa KAAD, aku harus mengirim email dulu ke KAAD Bonn dan KAAD Jakarta, lalu menunggu balasan berupa formulir.

Aku dipanggil wawancara untuk beasiswa DAAD sekitar Februari 2006. Aku ditanya oleh seorang profesor dari Jerman tentang topik TA milikku dulu. Sial, aku kaga bawa dokumen tentang TA ini. Oh, ya, topiknya tentang identifikasi sistem menggunakan Jaringan Saraf tiruan Recurrent. Untung aku ingat rumusnya sedikit, walau agak-agak salah dikit. Aku gugup sekali.

Aku juga ditanya oleh Dr. Terry Mart dari UI tentang karya ilmiahku selama jadi dosen, juga tentang penulisan dosen pembimbing dalam paper. Aku jawab sekenanya aja. Pertanyaan orang Indonesia memang lebih rumit.

Aku ditanya oleh seorang pegawai DAAD dari Jerman, persiapanku apa aja, darimana tahu jurusan Otomatisasi Uni Bremen, dan apakah aku tahu Bremen. Aku cuma bilang aku tahu via Internet. Tentang kota Bremen, yang kudapat cuma peta bus kota dan Strassenbahn hasil download. Jadi kujawab segitu aja.

Aku ditanya oleh seorang dosen dari Universitas Andalas, mengapa pilih jurusan Otomatisasi, bukankah Indonesia lebih butuh sistem padat karya. Dasar orang Indonesia, ngasih pertanyaan sulit. Aku bilang aja, pabrik-pabrik di semarang, banyak yang pakai sistem otomatisasi.

Aku keluar dari ruangan dengan lemas. Lalu naik busway, sistem transportasi yang kusuka dari Jakarta. Mabuk busway. Kembalilah aku ke Semarang dengan kereta malam. Aku berpikir kayanya kaga bakal dapat beasiswa.

Suatu hari, di kala hujan lebat, aku berada di Perpus Unika Soegijapranata, membaca-baca jurnal IEEE sambil bertapa, siapa tahu dapat ide buat penelitian. HP Nokia 5110 tiba-tiba berbunyi. Suara Ibu Fatmawati dari DAAD Jakarta terdengar. Dia bertanya apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, "Maaauuuuuu…..". Mana mungkin kutolak.

Perjuangan berikutnya adalah berhadapan dengan birokrasi dunia kerja dan beberapa rekan kerja usil yang agak menghambat urusanku dengan birokrasi. Kesibukan kerja karena lagi akreditasi juga membuat masalah lebih rumit. Aku juga perlu mengurus visa, pindahan, beres-beres, dan beli Laptop serta cari tempat tinggal di Bremen. Aku hanya sempat berpisah dengan Bapak-Ibuku sekitar 4 hari, dan setengah hari dengan kekasih tercinta. Kaga pakailah syukuran perpisahan, Unika memang tidak memberiku napas.

Tapi yang jelas aku bisa sampai Jerman, Senin, 3 April 2006. Kaga tahu kalau kereta api di Jerman cuma berhenti 2 menit, bukan 30 menit kaya Indonesia. Bisa ketemu sore-sore, Sekretaris Master Office, lalu dapat daftar "things I have to do". Dapat tempat tinggal di Bremen, dalam 3 hari. Kalau bisa bahasa Jerman, gampang dapat tempat tinggal dan semua orang menjadi ramah. Laptopku yang kubeli dari Indonesia cuma bertahan setengah tahun. Terpaksa beli Laptop baru di Jerman. Banyak pengalaman baru di Jerman.

statistik beasiswaku

Formulir beasiswa yang kuisi ada 7, yang sukses dapat beasiswa cuma 2.

Pertama kali mengirim beasiswa buat ke Jerman, Oktober 2002, bisa diterima di Jerman, April 2006. Penantian lama juga.

Akhirnya aku belajar banyak

1. kepercayaan diri penting buat melamar beasiswa, karena pancarannya dibutuhkan dalam wawancara

2. seseorang harus fokus dengan tujuan hidupnya

3. Tuhan memberi sesuatu pada waktu yang tepat.

4. Ternyata aku dapat jurusan yang cocok dengan latar belakang S1, jadinya the right man on the right place.

5. dorongan semangat dari luar kubutuhkan untuk melewati tantangan dan hambatan

6. kesabaran dan ketekunan, diperlukan untuk menantikan kemenangan perjuangan memperoleh beasiswa

7. kegagalan hanyalah umpan balik negatif. Setiap umpan balik negatif memiliki tujuan mencapai hasil yang stabil sesuai keinginan atau tujuan. Ini kupelajari dari sistem kontrol.

8. Perbaikilah selalu diri kita, supaya semakin matang dan tahu tips dan trik berjuang untuk beasiswa.

9. Ikut milis beasiswa

Yah, gitu deh.

Windows Vista dan Bugs

Wednesday, June 13th, 2007

Laptop baru dengan MS Windows Vista Business berbahasa Jerman ternyata juga punya kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya yang kuamati hingga hari ini:

1. Task Managernya asyik, bisa melihat program apa yang menggunakan file exe, dan kalau mengeklik End Process bisa cepat.

2. Windows Aero bikin tampilannya mirip Apple, tapi masih kalah bagus sama Apple.

3. Sidebarnya lumayan asyik dilihat

Yang bagiku tidak jelas apakah kelebihan dan kekurangan

1. Tampilannya beda dengan generasi sebelumnya. Kalau mau klak-klik harus cari-cari dulu. Kaya belajar dari awal. Banyak gambar daripada kata-kata.

2. Explorer untuk melihat file juga tampilannya berubah. Musti membiasakan diri dengan ini.

3. Notepad namanya jadi Editor, dan cara menyimpan filenya beda dengan XP, ekstensinya suka berlebihan. Jadi harus diakali sedikit.

Kekurangan Vista

1. Kaga cocok dengan Nero Image Drive

2. Sering ada pesan error kalau COM Surrogate tidak berfungsi, akibat Vista punya masalah dengan codec Divx atau Nero

3. Sering ada pesan error kalau host process rundll32.exe tidak berfungsi karena masalah codec Divx.

4. Bagi pemakai kamera digital Olympus, kamera kaga bisa dideteksi oleh Vista. Kamera cuma dianggap memori stick.

5. Masalah terakhir, adalah bahasa. PAkai Windows bahasa Jerman, bikin aku harus belajar dari awal lagi.

Aku belum coba MATLAB, Eclipse, dan Visual .net. Bisa jalan, dengan mantap, kaga, ya?

Dari segi compatibility, Vista masih kalah dengan XP.

Player

Tuesday, June 12th, 2007

Player

Player artinya pemain dalam bahasa Inggris. Player adalah istilah orang yang sering bermain cinta. Playboy untuk pria dan playgirl untuk wanita. Aku selalu iri dengan player. Kok, bisa-bisanya gampang dapat pacar, ya?

Player biasanya orang yang senang tantangan. Mereka senang menaklukan hati targetnya. Akan tetapi, orang ini termasuk orang yang takut komitmen, jadinya dia bisa bermain kejar, tembak, jalan bentar, lalu putus. Dan target yang dikejar dalam kurun waktu yang sama, biasanya tidak cuma satu.

Player sering diasosiasikan dengan binatang: buaya dan kadal. Entah kenapa binatang ini yang dipakai. Buaya itu sebetulnya makhluk yang cukup setia dengan pasangannya.

Nah, aku punya seorang kawan pria. Dia itu seorang player. Aku pernah bertanya, kenapa gonta-ganti cewe dan sering cari cewe lain walau sudah punya cewe. Dia bilang, dia semangat mencari cewe, tapi ketika sudah jadian, dia bosan. Dia bilang cuma tahan 2 minggu jadian, lalu dia pengen mencari cewe yang baru. Aku membayangkan bagaimana perasaan cewe ketika mendengar "aku bosan dengan kamu". Wah, yang bikin aku iri adalah kemampuannya mencari cewe. Sebetulnya ada cewe yang kusuka juga yang jadi korban kawanku ini.

Aku juga punya kawan wanita, yang pernah jadi pacar. Dia ini sebetulnya berbakat jadi player. Banyak cowo yang suka ama dia. Telpon dari cowo-cowo penggemarnya, ajakan antar jemput, nonton bareng, dll tak pernah berhenti. Selain itu, dia suka agak-agak ngasih kesempatan. Metode tarik ulur kaga jelas. Keberhasilanku mengambil hatinya, bagaikan keberhasilan Ramses membangun pyramid di Mesir atau , bagai Dinasti Sanjaya membangun Borobudur di Magelang. Yah, sekarang sudah putus, jadi aku harus mulai dari awal lagi.

Aku adalah pria setia, kadang ini jadi berkah dan kadang jadi kutukan. Berkah kalau bertemu wanita setia. Kutukan kalau bertemu playgirl. Aku juga pernah jadi korban playgirl. Dia bilang dia pergi dengan kakaknya, tapi suatu hari kutahu kalau dia anak sulung, dan itu bukan kakaknya tapi monyetnya.

Aku ingin sekali mudah menggaet wanita seperti player. Aku lebih butuh jodoh daripada para playboy. Aku kagum dengan sosok Casanova, Don Juan, James Bond, yang dapat cewe dengan mudah.

Aku kurang pede kalau menghadapi wanita. Grogi, lalu salah ngomong. Keringat dingin, lalu kabur. Untuk berkenalan dengan cewe yang tak dikenal di tempat umum, aku kurang pede. Mana bisa jadi player, kalau gini.

Pacaran pun grogi. Pernah suatu hari, ingin merangkul sang pacar ketika baru jadian. Namun karena grogi, malah jadinya megang bokongnya. Langsung deh jadi terkena hukuman fisik. Badan memar dan luka akibat tamparan, cakaran, cubitan, dll. Kalau pacaran aja kaga pede, gimana caranya mau jadi player?

Nah, ketika hubungan mulai aneh dan tak sehat, maksudnya menguras pikiran dan perasaan (juga uang, waktu, tenaga, dll), aku harus berani memutus hubungan cinta. Aku tak pernah berani memutus hubungan (baik jadian, TTM, dll), selalu saja menunggu diberi keputusan. Mana bisa jadi player, kalau kaga bisa mutusin cewe.

Masalahku satu, yaitu percaya diri.

Aku harus melatih kepercayaan diri supaya bisa menggaet wanita. Sesudah itu, aku harus mengendarai mobil buatan Eropa, maka aku baru setara James Bond. Latihan nyanyi, supaya punya suara sexy kaya Julio Iglesias, yang sehari bisa mendapat tiga cewe. Rajin fitness, supaya punya bahu Vin Diesel, bokong Brad Pitt, dan perut 50 Cent. Aku juga harus belajar menari biar Justin Timberlake kalah. Aku juga harus rajin senyum, kalau bisa senyumku  lebih manis daripada senyum George Clooney. Nah, kalau udah gitu, apakah bisa ya aku jadi player?

Kayanya kaga bisa, karena aku pria setia. Aku sudah bahagia kalau ada cewe setia yang bisa mencintaiku. Masihkah ada di jaman ini wanita setia, yang bukan player?

Film Romantis

Tuesday, June 12th, 2007

Film Romantis

Aku selalu suka film romantis, terutama yang happy ending. Baik film Hollywood, Bollywood, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Korea, oh ya, termasuk Indonesia, mir ist Wurst (semuanya sama aja).

Film romantis membuatku membangun kota utopia dalam diriku, yang penuh taman bunga indah yang berisi jiwa sang pencinta. Film romantis dari Hollywood  yang kebanyakan happy ending, bagai candu bagiku yang menjauhkanku dari kenyataan bahwa cinta itu tidak seindah film.

Aku suka sebuah film Italia, Cinema Paradiso, yang menggambarkan cinta seorang laki-laki akan bioskop tua dan wanita. Alfredo, si penjaga bioskop dengan diam, membuat si pencinta meninggalkan bioskop tua dan wanita yang dicintainya, supaya mengejar cita-cita yang lebih besar. Ketika si pencinta kembali, bioskop tersebut akan dijadikan tempat parkir dan dia menemukan wanita yang mirip dengan wanita yang dicintainya. Ternyata dia anak wanita yang dicintainya, yang telah menikah dengan sahabatnya.

Aku lalu melihat diriku yang meninggalkan seorang wanita yang kucintai demi cita-cita lebih besar. Entah apa yang terjadi dengan kita berdua nanti. Film Cinema Paradiso bisa menceritakan perjalanan 40 tahun kehidupan hanya dalam waktu tak lebih dari 3 jam, sudah membuatku penuh air mata haru. Kehidupanku yang kujalani bukanlah kehidupan virtual 40 tahun dikompresi jadi 3 jam, tapi kehidupan nyata. Hari demi hari harus kulalui dalam kekosongan sebagian jiwa ketika harus melepaskan seorang kekasih.

Film Korea-Jepang, bernama Friends, yang ada Kyoko Fukada juga asyik. Ceritanya juga seputar penantian. Ada hubungan menarik antara pria Korea penggemar film dan wanita Jepang. Wanita Jepangnya sampai bela-belain belajar bahasa Korea. Film cinta tanpa adegan ciuman, hanya mengandalkan sorotan mata penuh kasih. Mereka terpisah, lalu bertemu lagi ketika si pria memenangkan penghargaan film.

Film romantis yang dibintangi Adam Sandler, Meg Ryan, Tom Hanks, Sandra Bullock, Drew Barrymore, Hugh Grant, Renee Zelweger, dll juga favoritku. Happy Ending adalah kecenderungan film Hollywood. Cocok ditonton kalau lagi masa-masa ujian. Membangun optimisme.

Film yang kaga happy ending, membuatku takut. Karena terlalu mirip dengan kehidupan cintaku. Aku selalu takut menghadapi diriku sendiri. Film cinta kaga happy ending bagai cermin yang menggambarkan wajahku, Sang Pencinta Gagal. Film happy ending bagai lukisan Basuki Abdulah yang katanya bisa membuat lukisan yang lebih cantik daripada aslinya. Jaman sekarang Adobe Photoshop bisa membuat wajah orang lebih cantik daripada aslinya. Seperti itulah film romantis happy ending,  dunia serasa lebih indah. Lalu aku pun menjadi Sang Pemimpi.