Archive for September, 2007

Buruh…

Thursday, September 20th, 2007

Hari ini kucoba merasakan apa yang dialami kaum buruh.

Kurasakan bahwa menjadi buruh hanya menjadi sekadar alat produksi bagi perusahaan.

Bang Mandor cuma bisa bilang

"Cepat",

"Schnell, bitte!",

"Jangan berhenti, satu menit pun tak boleh hilang"

"Wir werden keine Minute verlieren."

Pengen nonjok rasanya.

Sebagai buruh, kita hanya disuruh bekerja nonstop selama waktu kerja, dan tak diberi kesempatan mengambil napas.

Bagi pengusaha kita hanyalah mesin yang bekerja untuk mereka.

Pengusaha pun melihat buruh sebagai hal yang berharga sedikit.

Hari ini di tanganku, ada TV seharga 3000 euro lebih yang lewat sebanyak 1 TV per menit. Dalam sejam, tanganku membawa 60 TV, yang berarti 180.000 euro per jam. Upah per jamku 7.5 euro per jam. Betapa nilai buruh begitu kecil di mata pengusaha.

Upahku lumayanlah. Yang jelas, kalau aku bekerja sehari di suatu gudang di Hamburg, upahku sama dengan upah sebulan buruh di Surabaya.

Sistem kerjanya juga lumayan menyenangkan. Setiap 2 jam ada istirahat 10 menit. Kalau di Indonesia dan Malaysia (kata kawanku), buruh cuma dikasih istirahat makan siang. Lumayan manusiawi.

Nasibku lebih baik daripada buruh di Tangerang, Bekasi, Surabaya, Bandung, dll. Tapi tetap saja aku merasa dihisap oleh pengusaha.

Bagiku pekerjaan ini, hanyalah fitnes gratis (malah dibayar). Bagi beberapa orang pekerjaan ini adalah hidup mati keluarga. Terutama di Indonesia.

Dalam pekerjaanku di Hamburg, aku cukup dilindungi asuransi kesehatan, asuransi sosial, dll. Buruh di Indonesia belum tentu.

Bekerja bersama sesama buruh, berstatus student, dari beberapa negara memang pengalaman berharga. Ada orang Cina asli, Malaysia, India, Vietnam, Afghanistan, Jepang, dll. Menggunakan bahasa Jerman kacau dicampur bahasa Tarzan.

Dalam bekerja, semuanya bisa saling marah-marah. Ada rasa pengen nonjok rekan kerja atau bang mandor. Tapi semuanya makan bareng di ruang istirahat.

Kata-kata yang menyenangkan buat buruh adalah "Pause" (istirahat) dan "Feierabend" (jam pulang kerja).

Aku sekarang menulis ini dengan badan pegal2, sepulang kerja. Udah mandi air hangat dan keramas. Kayanya aku bakal tidur enak.

Hari ini, aku udah lumayan enak dengan sistem logistik. Kemarin aku nyaris menjatuhkan 3 tivi. Gabungan dengan ulah mandor yang bikin aku lemas dan stress gara-gara melihat profil mantan di FS.

Ya, udah, tidur dulu.

Kapan2 kuceritakan tentang hal2 menarik di tempat kerjaku.

Kalau baca jangan setengah

Thursday, September 20th, 2007

Setelah kubaca semuanya, aku baru mengerti

Blogs yang kemarin, hanyalah ungkapan emosional semata

jika kugunakan rasionalitas dan setelah kuuji dengan kemampuan jurnalisme investigatifku, ada makna yang berbeda yang bisa kutemukan

Aku menyesal telah mengeluarkan pesan kepadanya dan pesan di blogs, hanya dari informasi secuil.

Andai saja aku tak lekas cepat emosi.

Kedewasaan memang tidak tumbuh dengan mudah.

Mudah2an keadaan tidak lebih buruk, setelah pesan2ku kemarin.

Aku menyesal membiarkan diriku dibawa emosi sehingga membuatku tidak bekerja dengan baik, hingga 3 kali nyaris menjatuhkan televisi 3000 euro lebih, dan nyaris pingsan dalam bekerja.

Andai saja aku menelusuri semua informasi dengan insting jurnalisku mungkin aku tak perlu menghabiskan waktu untuk bersedih hati.

Kali ini, aku harus berhati2 dalam mengolah informasi.

Aku lelah

Tuesday, September 18th, 2007

Aku sudah lelah

Aku sudah lelah melawan takdir.

Ketika pertama melihatmu, aku tahu kita takkan bersatu.

Namun mengapa aku tak bisa melupakanmu?

Mengapa kita bertemu lagi?

Mengapa aku harus tahu nomor telponmu?

Kucoba melawan takdir.

Memang ada peluh, air mata, darah, dsb.

Ada juga banyak saingan, termasuk kawan sendiri.

Ada juga nyokap lu yg kaga suka ama gua.

Ada juga kawan-kawan lu yang memberi nasihat busuk.

Ada juga ban kempes saat kita kencan.

Ketika kuingin berdua denganmu, selalu saja ada gangguan.

Memang sudah kucoba melawan takdir.

Aku bersyukur atas cintamu yang singkat.

Aku bersyukur atas semua kawan-kawanku yang menyemangatiku untuk memperjuangkan cintamu.

Aku bersyukur karena aku sempat merasakan kemenangan atas takdir.

Tapi kemenangan dalam pertempuran bukanlah kemenangan perang.

Membunuh pion, kuda, benteng, dan perdana menteri bukanlah Skak Mat.

Aku lelah melawan takdir.

Kini mengapa aku harus bertemu orang yang tampangnya mirip dengan monyet barumu di tempat kerjaku?

Kini mengapa aku harus melihat comment kawanmu di profil friendstermu?

Mengapa takdir seakan-akan menertawakanku?

Mengapa takdir tidak puas membiarkanku kalah?

Mengapa takdir belum berhenti menyiksaku?

Jika Tuhan sungguh-sungguh ada, ingin kutanyakan padanya sampai kapankah penderitaanku ini berakhir?

Haruskah kutinggalkan dunia ini untuk mendapatkan jawabannya?