Archive for December, 2007

Selamat Natal 2007

Tuesday, December 25th, 2007

Natal 2007

Fröhliche Weihnachten

Ini Natal kedua di Bremen, Jerman. Dingin, tanpa kehangatan pelukan Sang Kekasih.
Salju 3 hari lalu hilang terbasuh hujan. Misa Natal seperti biasa di St. Johann.
Tema khotbah tidak dapat kutangkap semua, maklum bahasa Jerman masih pas-pasan ditambah malas mendengar khotbah.

Merry Christmas

Pesta Natal kemarin dirayakan di rumah kawan-kawan Muslim, sebetulnya sih perayaan ultah salah satu penghuni rumah.
Kemudian datang MMA (asal Bogor, UI pula, punya nama mirip negara Afghanistan) dan TRY (asal Aceh, ITB pula), yang juga Muslim, tapi menenggak minuman beralkohol lebih banyak dari saya.
Datang A (asal Bandung, sempat mampir Kiel, tinggal dekat kuburan di Bremen).
Datang juga Sin, asal Singapura (kaga tahu gimana cara nulis namanya).
Lalu Anata (cewe Rusia) yang rambutnya mirip Adam’s Family, ada putih alami (baca uban) yang membuat indah rambutnya.
Lalu Lorena (cewe Mexiko) yang kalau nari gayanya selalu aneh, loncat-loncat kaga karuan.
Oh, ya, ada juga Sunthar (cowo India, suku Tamil), ternyata suka dangdut Indo.

Feliz Navidad

Menu pesta natal itu, yang sempat masuk mulutku:
- keripik
- salat
- makaroni
- Amaretto (alkohol 28%), rasanya manis
- sepertinya Wein (alkohol 9%)
- Lorsch (alkohol 38%), rasanya kaya puyer
Perutku perut Indo. Minum minuman haram, kaga mabuk, malah sakit perut.
(yang aku kaga mabuk boleh dikomentari oleh hadirin pesta itu)
Tapi kaga nyangka, MMA dan TRY ini minum lebih banyak dariku.
Mudah-mudahan karir politik mereka di Indonesia kaga kena pengaruh alkohol.
Siapa tahu MMA ini bakal masuk PKS. Juga TRY ini bakal jadi gubernur Aceh suatu hari.
TRY entah mabuk atau tidak, malah nyanyi lagu Rhoma Irama sambil ketawa-ketawa, betul-betul paradox.
MMA ini tiba-tiba mengembangkan Mazhab Hanafi dan Syafii, katanya selama kaga mabuk, minuman itu tidak haram.
Tapi matanya mulai redup aneh.

Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva i s Novim Godom

Einsamkeit? Jain.
Kaga ada pelukan hangat Sang Kekasih.
Kaga ada bokap nyokap. Kaga ada Eyang Kakung dan Eyang Putri.
Kaga ada Tante Ida, Tante Yayuk, Tante Riri, Tante Nana, Tante Vero, dll.
Kaga ada Om Beny, Om Rady, Om Asto, Om Budi, dll.
Kerabatku di negeri seberang, seperempat keliling bumi jauhnya.

Buono Natale

Lalu kawan-kawan kuliah dan kursus pada mudik.

Martha, cewe Polandia, cantik, matanya indah dan senyumnya manis, jurusan Desain Grafis.
Wajahnya ceria, jarang ada orang Polandia berwajah ceria.
Kaga jadi makan bareng denganku. Sekarang mudik ke Gdansk.

Isabelle, cewe Perancis, senyumnya manis, bokongnya berbulu lebat (tahu dari mana?), jurusan Ilmu Politik.
sempat di Mensa dilirik TRY (temanku asal Aceh itu lho).
Dia kaga bisa makan pakai sumpit dengan benar. Dia juga mudik ke Bordeaux.

Juan Alfonso ramirez Martinez juga mudik ke Mexico.
Jadi kaga ada kawan konsultasi Rhapsody dan Latex.

Roderich Wahsner, Bapak kosku.
Merayakan Natal di rumah sakit. Sepertinya tulang paha patah karena jalan licin, ada Glatteis di malam Natal.
Rumahku sepi (baca rumah kosku).

Akan tetapi ada orang Indonesia yang bisa kukunjungi:
Mas Yadi, Mba Mia, Dendy, Eva, Vita, Oecoep, dll.
Tiada yang lebih enak daripada makan dan minum gratis.
Mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Kehangatan mereka pelipur kesepianku di Bremen.

Joyeux Noel

Natal ini, sembari diiringi lagu-lagu di radio dalam berbagai bahasa,
(Jerman, Perancis, Spanyol, Arab, dll - Jerman emang multikulti),
seusai pesta pora, kurenungkan beberapa hal.

Mengapa ketika mendengar cerita Natal, aku terbayang bayi-bayi yang terbuang?
Di Jerman, koran memberitakan bayi yang dibuang di tempat sampah atau di pinggir jalan.
Angela Merkel dan parlemen Jerman sempat berbicara tentang perlindungan anak harus masuk "Grundgesetzt" (semacam UUD Jerman?).
Di Bandung, sebulan sekali, katanya selalu ada 1-2 berita koran, tentang bayi dibuang di sungai Cikapundung yang membelah kota kembang ini.

Aku membayangkan Maria yang mengandung Yesus, sembari membayangkan kegundahan wanita yang hamil tak diinginkan.
Entah kaga pakai kondom (dan pil, serta alat kontrasepsi lain), entah ditipu lelaki, entah diapa-apain.
Aku membayangkan kegundahan Yusuf yang bingung mau menikahi Maria atau tidak. Sempat dia berpikir menikah lalu cerai.
Kegundahan yang sama dengan laki-laki ogah kondom yang menghamili pacarnya. Nikah dulu baru cerai.
Jadi nikah itu cuma demi status, ya?

Untung, Yusuf ketemu malaikat yang datang jauh-jauh dari surga (Emangnya surga itu jauh, ya?).
Jadi dia bisa diyakinkan untuk menikahi Maria dan menemani Maria di masa-masa kehamilannya lalu di masa persalinannya.
Ini adalah Suami SIAGA (Siap Antar Jaga).

I’D Miilad Said ous Sana Saida

Satu lagi, aku membayangkan Kaisar pertama Romawi yaitu Agustus.
Dia bikin sensus penduduk yang mewajibkan penduduk balik ke daerah asalnya.
Bikin aturan kok rumit-rumit, ya?
aku membayangkan birokrasi Indonesia yang kadang-kadang menyebalkan.
Maria lagi hamil harus pergi jalan kaki ke Jerusalem.

Lalu ketika sudah kontraksi, Maria tidak bisa mendapat tempat bersalin layak.
Semua menolak yusuf dan Maria.
Jadi ingat ibu-ibu miskin yang ditolak rumah sakit di Indonesia.
Atau ibu-ibu miskin yang bayinya ditahan rumah sakit, tidak boleh diambil sebelum melunasi biaya rumah sakit.
Ibu miskin yang tidak dapat hak operasi caesar, dipaksa melahirkan normal, yang akhirnya kepala bayi sampai putus.
Kehamilan dan persalinan pertama yang traumatis, melihat darah muncrat dari badan kecil tanpa kepala.
Pantas saja angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tinggi.
Orang miskin dilarang melahirkan.

Wesolych Swiat i Szczesliwego Nowego Roku

Ada pula Raja Herodes. Raja Israel yang cuma tahu pesta pora dan bayar upeti kepada Romawi.
Tidak bisa melawan penjajah Romawi. Tapi lebih milih membunuh bangsa sendiri.
Jadi ingat militer Indonesia. Tidak mampu melawan negara asing, tapi menindas rakyatnya sendiri.
Pemerintah kita tak berdaya menghadapi penindasan ekonomi bangsa asing, tapi cukup uang untuk menggebuki rakyatnya sendiri.
Herodes ini yang membuat Yusuf dan MAria harus pergi ke Mesir, karena menyerukan anak-anak yang lahir pada saat itu dibunuh.
Jadi terbayang negara Indonesia, yang tak mampu melindungi hak anak.
Banyak anak mati kurang gizi. Ditelantarkan, dll.

Apapun yang terjadi, anak metal selalu optimis, sukanya ngangguk-ngangguk.
Semoga setahun kedepan, dunia lebih baik.

Sembari belajar C++,
berteman Toblerone 750 gram, hasil cuci gudang,
dengan penuh harapan, tahun depan lulus master,
kuucap dari hati terdalam,

Selamat Natal 2007
(dan tahun baru 2008)

Damai di bumi, damai di hati

Cerman IndoBremen

Friday, December 7th, 2007

CerMan IndoBremen

Judul di atas adalah singkatan:

CerMan = Cerita Mantan

IndoBremen = orang Indonesia di Bremen

Ternyata pergi jauh merantau ke negeri seberang, memang perjuangan keras buat sebagian orang IndoBremen. Apalagi bagi para pencinta, sepertiku.

Aku memutus hubungan kasih dengan seorang wanita yang kucinta, delapan jam sebelum keberangkatanku ke Jerman. Padahal cinta wanita ini kudapatkan dengan susah payah selama 3 tahun pedekate, penuh darah dan air mata yang tertumpah. Sialnya, kaga ada air mani yang tumpah.

Sialnya lagi hanya dalam 2 bulan setelah putus. Dia sudah bisa berpindah ke lain hati. Wah, gila, betapa mudah cowo itu mengambil hati. Hanya dalam 2 bulan. Aku saja butuh 3 tahun. Ini adalah satu contoh bahwa pria lebih setia daripada wanita.

Sampai kini, aku tetap mencintai wanita ini. Aku memilih putus karena merasa kaga enak hati kalau dia tak bisa merayakan masa mudanya. Aku tak enak jika dia yang masih muda harus menanti diriku. Sial, mengapa aku menjadi orang terlalu altruistik? Mengapa aku harus menderita demi kebahagiaan orang lain?

Lalu ada cerita lain dari kawan-kawan di Bremen, Jerman.

Sebut saja namanya W. Sampai kini di Bremen, nasibnya sama denganku jomblo selalu di Jerman. Dia bilang susah dapat jodoh di Jerman. Kugali-gali sedikit, ternyata dia masih menyimpan rasa cinta dengan seorang mantan yang memutuskannya di semester III, tepat malam hari sebelum esoknya kelas Rangkaian Listrik I. Dia memasuki kelas itu pada jam 8 pagi, dengan dunia yang berbeda. Seorang wanita yang menjalin kasih selama 4 tahun, tiba-tiba memutuskan dia. Temanku W itu kuliah di PTN Depok, dan cewe yang mutusin dia itu kuliah di PTN Gajah Tapa Bandung. Katanya sih cewe itu kembang kampus. Ini juga salah satu contoh bahwa pria lebih setia daripada wanita.

Sebut saja, namanya J. Orang terkenal di Bremen, suka pegel kalau mengunyah makanan. Dia bercerita bahwa di Indonesia, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain. Di Bremen, si J ini jadi kuliah malas-malasan. Malas balik Indo juga.

Kalau dibandingkan dengan diriku, pada semester I dan II, aku rajin kuliah di Bremen. Dengan suatu harapan, aku bisa cepat balik ke Indonesia, lalu bertemu dengan mantanku. Pada semester III, mantanku tak membalas email dan pesan di friendster. Aku langsung kehilangan semangat kuliah. Aku malas balik ke Indonesia. Ingin tinggal lama di Jerman. Satu tujuan hidup seperti hilang.

Sebut saja temanku di Bremen bernama T, asal Aceh. Orangnya senang jadi pusat perhatian. Makanya jadi DJ. Dia bilang juga bahwa dia masih menyimpan rasa dengan mantannya. Namun apa mau dikata, hubungan jarak jauh bagi dia amat sulit.  Untuk studi di Jerman, memang harus ada tumbalnya, yaitu cinta. Kamu harus merelakan kehilangan cinta, supaya bisa studi di Jerman.

Coba aja lihat Christian Sugiono, pemain film Jomblo. Dia menyimpan cinta untuk Titi Kamal, pemain film Ada Apa dengan Cinta (AADC). Dia masih aja jadian ama Titi Kamal, jadinya kuliahnya di Hamburg, Jerman, jadi DO. Mustinya dia mengorbankan cintanya, makanya bisa kuliah sampai tingkat tinggi kaya gua, J, W, dan T, yang masih jomblo di Bremen, sembari mengingat mantannya masing-masing.

BTW, akhir-akhir ini saya merenung. Perlukah cinta diperjuangkan? Aku dulu rela pedekate 3 tahun, demi cinta mantanku, yang fotonya ada di akun FS milikku. Aku masih menginginkan dirinya menjadi milikku.

Hanya ada dua pilihan cinta bagiku

1. Mantanku

2. bule yang kutemui di Jerman

Jika aku gagal dapat bule di Jerman, dan sekembalinya ke Indo, mantanku sudah bersama pria lain, aku tak tahu apa lagi tujuan hidupku selain mengabdi kepada ilmu pengetahuan (dunia Robotika, Automation, dll) dan kepada uang (menjadi pengusaha).

Mungkin Tuhan tidak menciptakanku sebagai seorang yang memiliki pasangan hidup dan berkeluarga. Kisah cintaku rumit dan sulit. Lebih baik aku mengejar hal-hal yang mudah saja di Bremen, Jerman, yaitu mencari ilmu. Ilmu pengetahuan, maksudnya, bukan ilmu santet. Mencari jodoh terlalu berat dan sulit, biar saja nanti dikasih Tuhan. Yang penting punya kenalan cewe sebanyak-banyaknya, siapa tahu ada yang nyantol. Tapi tetap saja, mantanku (yang fotonya nampang di akun friendsterku) adalah yang terbaik.

Bremen, 7 Desember 2007