Archive for January, 2008

Secara Gila

Thursday, January 10th, 2008

Secara Gila

Akhir-akhir ini aku sebal kalau dengar atau baca kata "secara".

"Secara" bisa dipakai sebagai pengganti "since" (Bahasa Inggris) atau "karena" atau "sebab". Dalam bahasa Jerman artinya "wegen" atau "weil" atau "denn". Makna "secara" di sini adalah makna kausalitas.

Lalu timbul pula arti kata "secara" yang artinya "otherwise" (Bahasa Inggris) atau "selain". Hal ini menggunakan kata "secara itu". Dalam bahasa Jerman artinya "trotzdem", "ausserdem", atau "trotz". Makna "secara" di sini adalah makna pertentangan.

Percayalah bahwa dalam bahasa Jerman dan Inggris, kata yang sama tidak bisa dipakai sekaligus untuk kausalitas dan kalimat pertentangan.

Bisa gila, aku!

Aku cuma meninggalkan Indonesia sebentar, belum 2 tahun, sudah ada perubahan penggunaan kata "secara".

Dalam bahasa Indonesia baku, setahuku, kata "secara" punya makna beberapa macam:

- "satu cara" = 1 cara

- "dengan cara"

- "sama cara"

cara di sini artinya bisa "method" atau "way" (Bahasa Inggris).

Mungkin dalam bahasa gaul, ada kata baru yang namanya "secara" yang bukan berasal dari kata "cara", yang penggunaannya bisa dipakai untuk sapu jagad di semua kalimat, yang penting dipasang di awal kalimat supaya kelihatan modern dan gaul.

Paling kasihan dengan orang bule yang belajar Bahasa Indonesia. Di ruang kelas, mereka bersusahpayah belajar Bahasa Indonesia baku: belajar imbuhan standar, pasif-aktif, transitif-intransitif, dll, dengan buku diktat seadanya. Tapi sampai Indonesia, mereka melongo, mendengar orang bicara bahasa gaul Indo yang tak mereka mengerti. Akhirnya orang-orang bule tersebut lebih mahir berbahasa Jawa, dari Jawa Ngoko hingga Kromo Hinggil, daripada Bahasa Indonesia.

Kebetulan di Uni Bremen, Jerman, kulihat diktat tipis Pelajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing. Tidak ada buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau melihat rak-rak buku lainnya, ada berbagai buku pelajaran bahasa asing lainnya: Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, Arab, Polandia, dll. Sepertinya orang-orang dari negeri itu, lebih rapi, apik, dan profesional dalam menyebarkan budayanya. Mereka sepertinya sadar bahwa bahasa adalah salah satu kekuatan besar budayanya.

Pemerintah, universitas, pers, dan pasar nampaknya selalu kompak dalam berbahasa baku di negara-negara pengguna bahasa Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, Arab, dll. Di Jerman ada standar Hochdeutsch yang dipakai institusi pemerintahan, surat kontrak (pasar), universitas, sekolah, koran, dll. Di Indonesia, bahasa baku cuma ada di perpustakaan universitas dan sekolah. Maksudnya, cuma ada di buku Kamus Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Indonesia, Kaidah Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, dan beberapa buku mirip. Tapi guru bahasa Indonesia bisa beda-beda dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu, media juga berbeda-beda dalam berbahasa Indonesia. Pasar dengan iklan-iklannya juga menunjukkan bahasa-bahasa Indonesia tidak baku. Surat-menyurat resmi bisa juga kacau balau dalam berbahasa, sampai orang tidak tahu mana yang baku.

Bahasa Indonesia memang bahasa kaum anarkis. Tidak ada pedoman tunggal yang dipakai bersama. Semua orang (baca pengguna bahasa) bisa memodifikasi bahasa seenaknya. Yang penting didukung rame-rame (beramai-ramai). Kekuasaan berada di tangan pengguna, bukan akademisi, bukan ahli bahasa yang dulu pernah berkumpul membentuk Ejaan Yang Disempurnakan, juga bukan Pemerintah. Nampaknya anomi dalam berbahasa Indonesia juga klop dengan anomi dalam kehidupan sosial politik di Indonesia.

Yang menyebalkan dari Friendster

Wednesday, January 9th, 2008

Hal yang menyebalkan dari perkenalan di Friendster

Aku tuh paling sebal kalau ada orang tak dikenal minta di "add friends", tapi profilnya disembunyikan (hidden). Selain itu, tanpa basi-basi kirim pesan (Message) atau senyuman (Smile).

Aku kira kawan SMA atau SMP atau SD atau kursus, ternyata orang tak dikenal. Kalau kaga kenal, basa-basi dikit, alias berkenalan dulu, lah. Atau kalau tak pandai basa-basi, profilnya dibuka untuk umum. Jadi aku bisa menilai orang ini layak jadi teman atau tidak.

Aku tuh juga sebal kalau ada orang tak dikenal berani2nya pasang komentar (comment) di profilku. Hanya kawan yang boleh pasang komentar di profilku. Kalau pasang komentar di blogs kaga apa-apa.

Aku buka profilku untuk umum, karena aku pikir orang harus tahu aku apa adanya. Aku juga pasang komentar kawan-kawan yang kuanggap menggambarkan diriku.

Sorry, friends, kalau kuhapus komentar semacam

- "besok ke kampus"

- "jadi kapan?"

- "lagi di mana?"

- dll yang cukup ditulis via "send message" atau "send smile"

Kalau komentar jahanam, tentang

- "Condro ini tukang gosip, tidak bisa menjaga rahasia"

- "Condro ini posesif dan cemburuan"

- "Condro ini jarang mandi"

pasti akan tetap tampil di profil, karena kuanggap menggambarkan diriku

Juga komentar cantik, pasti akan kupasang seperti

- "Condro pria setia"

- "High quality Jomblo"

- "Condro hemat air, jadi jarang mandi"

- "Condro ini kaya anjing. Traktir dia makan, dijamin dia bakal setia padamu"

Ok, deh, sekian dulu.

Apa yang kutulis takkan diubah kecuali kalau bertentangan dengan sains dan teknologi.

Yang Terlupakan Juga

Saturday, January 5th, 2008

Hore… tulisan pertamaku di tahun 2008…

Kembali ke blogs lagi.

Aku masih goblog dalam soal blogs, maka aku selalu merasa bahwa aku kurang serius berpartisipasi dalam gerakan Go Blog yang dicanangkan para blogger.

Nah, aku mencoba menulis lagi lanjutan tulisan "Yang Terlupakan", baca:

http://iscab.blogs.friendster.com/ignatius_sapto_condro_atm/2007/05/yang_terlupakan.html

Si D, yang kukenal pertama kali sewaktu kelas 2 SMA, berhasil kutambah (add) sebagai teman (friend) di friendster. Hore…

Aku terhibur sedikit, karena aku tak lagi menjadi Yang Terlupakan.

Hiburan bertambah lagi ketika si Mn yang kukenal saat 1 SMP menyetujui (approve) pertemanan di friendster. Tidak secantik dahulu, sih. Maklum pandanganku tentang kecantikan berubah seiring dengan perkembangan jaman.

Si A, juga ikut jadi temanku di FS. Kaga tahu dia meng-add asal atau karena ingat aku. Yang jelas aku merasa menjadi bukan Yang Terlupakan.

Si M, yang kukenal saat SMP. Sampai sekarang belum kutemukan di jagad Friendster. Mungkin dia ada di Multiply, Facebook, Goodreads, atau yang lainnya. Perlu diingat, aku udah lupa password multiply gua. Ikut Facebook juga malas karena mirip StudiVZ. Goodreads juga malas, karena gua lagi jarang baca buku. Aku terlalu malu untuk ikut seperti itu. Kalau ketemu si M, baik secara virtual maupun secara fisik, mudah2an aku bukanlah Yang Terlupakan.

Si Y yang kukenal saat aku 1 SMP dulu sempat kutemukan di jagad friendster, tapi aku lupa nyambungnya lewat teman yang mana. Sekarang aku sudah malas mencari jejaknya, mengingat temanku di akun FS ini sudah 933. Di akun FS yang lain jumlah temanku cuma 200-an, yang mayoritas kaga aku kenal.

Nah, sekarang si J yang kukenal saat aku 2 SMA. Yang pernah ditaksir oleh kawanku G (vokalis Yovie and Nuno) ketika si G baru aja putus ama V. Sekarang si G sudah menikah, kaga tahu kabarnya lagi, mudah2an Yovie and Nuno segera bikin album. Kembali tentang J, dia sampai sekarang belum approve di friendster. Padahal aku pengen lihat foto2nya. Pasti makin sexy. Aku tak tahu kenapa dia tidak approve. Apakah aku Yang Terlupakan? Atau Yang Dibenci dan Yang Harus Dilupakan?

Nah, sekarang di friendster, aku berhasil menemukan si L. Dulu sekolah di SMA yang sama. Apakah juga di SMP yang sama, ya? Aku lupa. Nah, sekarang aku menjadi yang melupakan.

Si L ini masuk Biologi ITB dan aku masuk Teknik Elektro ITB. Si L punya rumah di dekat Soreang. Aku punya rumah di Margahayu Permai. Kalau aku lagi pengen hemat, dan dia lagi pakai mobil pribadi, aku suka nebeng. Nah, karena EL ITB adalah jurusan yang miskin cewe, dan aku lagi jomblo saat itu, ditambah si L ini orangnya cerdas, penuh semangat, wawasan luas, punya impian, senang diskusi, ikut gera’an mahasiswa yang lumayan progresif revolusioner, maka aku jadi kagum dan agak-agak tertarik dengan si L. Cuma aku tak bisa mengungkapkan rasaku karena aku lagi memperjuangkan cinta wanita lain. Jadi kawan-kawan, kalau kamu cewe punya wawasan luas dan cerdas plus kalau bisa feminis, maka cocoklah denganku.

Si L ini pindah ke California (di USA), wah, jauh, sebelum menuntaskan masa TPB di ITB. TPB artinya Tahap Persiapan Bersama, yaitu semester 1 dan 2 di kampus Ganesha 10 itu. Anak-anak KMK ITB menyanyikan lagu "The Wedding" pada saat perpisahannya. Aneh, ya? BTW, KMK ITB itu Kawan Makan Kawan ITB. :-) Kaga, ding, yang betul adalah Keluarga Mahasiswa Katolik ITB, kadang-kadang juga disebut Keluarga Mahasiswa Komunis, mengingat banyak tokoh kiri berasal dari sana. Saat ini mungkin boleh disebut Keluarga Main Kartu.

Kalau dia keluar dari ITB pindah ke California. Aku tetap di Bandung. Aku pindah kuliah. Dulu Elektro ITB sekarang aku pindah Sastra Listrik UGT (Universitas Gadjah Tapa). Kampus ini lokasinya sama dengan ITB, minjam gedung, dosen, dan juga ijazah. Sempat bertemu dia ketika dia lagi liburan. Aku bertemu dia di UGT/ITB. Ternyata dia lupa denganku. Memang sudah nasib, kalau bertemu wanita cantik,  aku selalu menjadi Yang Terlupakan.

Lalu sekarang kutemukan dia di jagad Friendster. Kukirimi dia pesan (message). Kuberitahu emailku dengan harapan diundang (invite) tapi tiada balasan. Kayanya aku menjadi Yang Makin Terlupakan.

Sekali lagi kawan-kawan, aku memang selalu dilupakan oleh wanita cantik. Jadi bersyukurlah kalau kamu bisa lupa denganku, itu artinya kamu memang cantik.