Yang menyebalkan dari Friendster

January 9th, 2008 by iscab

Hal yang menyebalkan dari perkenalan di Friendster

Aku tuh paling sebal kalau ada orang tak dikenal minta di "add friends", tapi profilnya disembunyikan (hidden). Selain itu, tanpa basi-basi kirim pesan (Message) atau senyuman (Smile).

Aku kira kawan SMA atau SMP atau SD atau kursus, ternyata orang tak dikenal. Kalau kaga kenal, basa-basi dikit, alias berkenalan dulu, lah. Atau kalau tak pandai basa-basi, profilnya dibuka untuk umum. Jadi aku bisa menilai orang ini layak jadi teman atau tidak.

Aku tuh juga sebal kalau ada orang tak dikenal berani2nya pasang komentar (comment) di profilku. Hanya kawan yang boleh pasang komentar di profilku. Kalau pasang komentar di blogs kaga apa-apa.

Aku buka profilku untuk umum, karena aku pikir orang harus tahu aku apa adanya. Aku juga pasang komentar kawan-kawan yang kuanggap menggambarkan diriku.

Sorry, friends, kalau kuhapus komentar semacam

- "besok ke kampus"

- "jadi kapan?"

- "lagi di mana?"

- dll yang cukup ditulis via "send message" atau "send smile"

Kalau komentar jahanam, tentang

- "Condro ini tukang gosip, tidak bisa menjaga rahasia"

- "Condro ini posesif dan cemburuan"

- "Condro ini jarang mandi"

pasti akan tetap tampil di profil, karena kuanggap menggambarkan diriku

Juga komentar cantik, pasti akan kupasang seperti

- "Condro pria setia"

- "High quality Jomblo"

- "Condro hemat air, jadi jarang mandi"

- "Condro ini kaya anjing. Traktir dia makan, dijamin dia bakal setia padamu"

Ok, deh, sekian dulu.

Apa yang kutulis takkan diubah kecuali kalau bertentangan dengan sains dan teknologi.

Yang Terlupakan Juga

January 5th, 2008 by iscab

Hore… tulisan pertamaku di tahun 2008…

Kembali ke blogs lagi.

Aku masih goblog dalam soal blogs, maka aku selalu merasa bahwa aku kurang serius berpartisipasi dalam gerakan Go Blog yang dicanangkan para blogger.

Nah, aku mencoba menulis lagi lanjutan tulisan "Yang Terlupakan", baca:

http://iscab.blogs.friendster.com/ignatius_sapto_condro_atm/2007/05/yang_terlupakan.html

Si D, yang kukenal pertama kali sewaktu kelas 2 SMA, berhasil kutambah (add) sebagai teman (friend) di friendster. Hore…

Aku terhibur sedikit, karena aku tak lagi menjadi Yang Terlupakan.

Hiburan bertambah lagi ketika si Mn yang kukenal saat 1 SMP menyetujui (approve) pertemanan di friendster. Tidak secantik dahulu, sih. Maklum pandanganku tentang kecantikan berubah seiring dengan perkembangan jaman.

Si A, juga ikut jadi temanku di FS. Kaga tahu dia meng-add asal atau karena ingat aku. Yang jelas aku merasa menjadi bukan Yang Terlupakan.

Si M, yang kukenal saat SMP. Sampai sekarang belum kutemukan di jagad Friendster. Mungkin dia ada di Multiply, Facebook, Goodreads, atau yang lainnya. Perlu diingat, aku udah lupa password multiply gua. Ikut Facebook juga malas karena mirip StudiVZ. Goodreads juga malas, karena gua lagi jarang baca buku. Aku terlalu malu untuk ikut seperti itu. Kalau ketemu si M, baik secara virtual maupun secara fisik, mudah2an aku bukanlah Yang Terlupakan.

Si Y yang kukenal saat aku 1 SMP dulu sempat kutemukan di jagad friendster, tapi aku lupa nyambungnya lewat teman yang mana. Sekarang aku sudah malas mencari jejaknya, mengingat temanku di akun FS ini sudah 933. Di akun FS yang lain jumlah temanku cuma 200-an, yang mayoritas kaga aku kenal.

Nah, sekarang si J yang kukenal saat aku 2 SMA. Yang pernah ditaksir oleh kawanku G (vokalis Yovie and Nuno) ketika si G baru aja putus ama V. Sekarang si G sudah menikah, kaga tahu kabarnya lagi, mudah2an Yovie and Nuno segera bikin album. Kembali tentang J, dia sampai sekarang belum approve di friendster. Padahal aku pengen lihat foto2nya. Pasti makin sexy. Aku tak tahu kenapa dia tidak approve. Apakah aku Yang Terlupakan? Atau Yang Dibenci dan Yang Harus Dilupakan?

Nah, sekarang di friendster, aku berhasil menemukan si L. Dulu sekolah di SMA yang sama. Apakah juga di SMP yang sama, ya? Aku lupa. Nah, sekarang aku menjadi yang melupakan.

Si L ini masuk Biologi ITB dan aku masuk Teknik Elektro ITB. Si L punya rumah di dekat Soreang. Aku punya rumah di Margahayu Permai. Kalau aku lagi pengen hemat, dan dia lagi pakai mobil pribadi, aku suka nebeng. Nah, karena EL ITB adalah jurusan yang miskin cewe, dan aku lagi jomblo saat itu, ditambah si L ini orangnya cerdas, penuh semangat, wawasan luas, punya impian, senang diskusi, ikut gera’an mahasiswa yang lumayan progresif revolusioner, maka aku jadi kagum dan agak-agak tertarik dengan si L. Cuma aku tak bisa mengungkapkan rasaku karena aku lagi memperjuangkan cinta wanita lain. Jadi kawan-kawan, kalau kamu cewe punya wawasan luas dan cerdas plus kalau bisa feminis, maka cocoklah denganku.

Si L ini pindah ke California (di USA), wah, jauh, sebelum menuntaskan masa TPB di ITB. TPB artinya Tahap Persiapan Bersama, yaitu semester 1 dan 2 di kampus Ganesha 10 itu. Anak-anak KMK ITB menyanyikan lagu "The Wedding" pada saat perpisahannya. Aneh, ya? BTW, KMK ITB itu Kawan Makan Kawan ITB. :-) Kaga, ding, yang betul adalah Keluarga Mahasiswa Katolik ITB, kadang-kadang juga disebut Keluarga Mahasiswa Komunis, mengingat banyak tokoh kiri berasal dari sana. Saat ini mungkin boleh disebut Keluarga Main Kartu.

Kalau dia keluar dari ITB pindah ke California. Aku tetap di Bandung. Aku pindah kuliah. Dulu Elektro ITB sekarang aku pindah Sastra Listrik UGT (Universitas Gadjah Tapa). Kampus ini lokasinya sama dengan ITB, minjam gedung, dosen, dan juga ijazah. Sempat bertemu dia ketika dia lagi liburan. Aku bertemu dia di UGT/ITB. Ternyata dia lupa denganku. Memang sudah nasib, kalau bertemu wanita cantik,  aku selalu menjadi Yang Terlupakan.

Lalu sekarang kutemukan dia di jagad Friendster. Kukirimi dia pesan (message). Kuberitahu emailku dengan harapan diundang (invite) tapi tiada balasan. Kayanya aku menjadi Yang Makin Terlupakan.

Sekali lagi kawan-kawan, aku memang selalu dilupakan oleh wanita cantik. Jadi bersyukurlah kalau kamu bisa lupa denganku, itu artinya kamu memang cantik.

Selamat Natal 2007

December 25th, 2007 by iscab

Natal 2007

Fröhliche Weihnachten

Ini Natal kedua di Bremen, Jerman. Dingin, tanpa kehangatan pelukan Sang Kekasih.
Salju 3 hari lalu hilang terbasuh hujan. Misa Natal seperti biasa di St. Johann.
Tema khotbah tidak dapat kutangkap semua, maklum bahasa Jerman masih pas-pasan ditambah malas mendengar khotbah.

Merry Christmas

Pesta Natal kemarin dirayakan di rumah kawan-kawan Muslim, sebetulnya sih perayaan ultah salah satu penghuni rumah.
Kemudian datang MMA (asal Bogor, UI pula, punya nama mirip negara Afghanistan) dan TRY (asal Aceh, ITB pula), yang juga Muslim, tapi menenggak minuman beralkohol lebih banyak dari saya.
Datang A (asal Bandung, sempat mampir Kiel, tinggal dekat kuburan di Bremen).
Datang juga Sin, asal Singapura (kaga tahu gimana cara nulis namanya).
Lalu Anata (cewe Rusia) yang rambutnya mirip Adam’s Family, ada putih alami (baca uban) yang membuat indah rambutnya.
Lalu Lorena (cewe Mexiko) yang kalau nari gayanya selalu aneh, loncat-loncat kaga karuan.
Oh, ya, ada juga Sunthar (cowo India, suku Tamil), ternyata suka dangdut Indo.

Feliz Navidad

Menu pesta natal itu, yang sempat masuk mulutku:
- keripik
- salat
- makaroni
- Amaretto (alkohol 28%), rasanya manis
- sepertinya Wein (alkohol 9%)
- Lorsch (alkohol 38%), rasanya kaya puyer
Perutku perut Indo. Minum minuman haram, kaga mabuk, malah sakit perut.
(yang aku kaga mabuk boleh dikomentari oleh hadirin pesta itu)
Tapi kaga nyangka, MMA dan TRY ini minum lebih banyak dariku.
Mudah-mudahan karir politik mereka di Indonesia kaga kena pengaruh alkohol.
Siapa tahu MMA ini bakal masuk PKS. Juga TRY ini bakal jadi gubernur Aceh suatu hari.
TRY entah mabuk atau tidak, malah nyanyi lagu Rhoma Irama sambil ketawa-ketawa, betul-betul paradox.
MMA ini tiba-tiba mengembangkan Mazhab Hanafi dan Syafii, katanya selama kaga mabuk, minuman itu tidak haram.
Tapi matanya mulai redup aneh.

Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva i s Novim Godom

Einsamkeit? Jain.
Kaga ada pelukan hangat Sang Kekasih.
Kaga ada bokap nyokap. Kaga ada Eyang Kakung dan Eyang Putri.
Kaga ada Tante Ida, Tante Yayuk, Tante Riri, Tante Nana, Tante Vero, dll.
Kaga ada Om Beny, Om Rady, Om Asto, Om Budi, dll.
Kerabatku di negeri seberang, seperempat keliling bumi jauhnya.

Buono Natale

Lalu kawan-kawan kuliah dan kursus pada mudik.

Martha, cewe Polandia, cantik, matanya indah dan senyumnya manis, jurusan Desain Grafis.
Wajahnya ceria, jarang ada orang Polandia berwajah ceria.
Kaga jadi makan bareng denganku. Sekarang mudik ke Gdansk.

Isabelle, cewe Perancis, senyumnya manis, bokongnya berbulu lebat (tahu dari mana?), jurusan Ilmu Politik.
sempat di Mensa dilirik TRY (temanku asal Aceh itu lho).
Dia kaga bisa makan pakai sumpit dengan benar. Dia juga mudik ke Bordeaux.

Juan Alfonso ramirez Martinez juga mudik ke Mexico.
Jadi kaga ada kawan konsultasi Rhapsody dan Latex.

Roderich Wahsner, Bapak kosku.
Merayakan Natal di rumah sakit. Sepertinya tulang paha patah karena jalan licin, ada Glatteis di malam Natal.
Rumahku sepi (baca rumah kosku).

Akan tetapi ada orang Indonesia yang bisa kukunjungi:
Mas Yadi, Mba Mia, Dendy, Eva, Vita, Oecoep, dll.
Tiada yang lebih enak daripada makan dan minum gratis.
Mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Kehangatan mereka pelipur kesepianku di Bremen.

Joyeux Noel

Natal ini, sembari diiringi lagu-lagu di radio dalam berbagai bahasa,
(Jerman, Perancis, Spanyol, Arab, dll - Jerman emang multikulti),
seusai pesta pora, kurenungkan beberapa hal.

Mengapa ketika mendengar cerita Natal, aku terbayang bayi-bayi yang terbuang?
Di Jerman, koran memberitakan bayi yang dibuang di tempat sampah atau di pinggir jalan.
Angela Merkel dan parlemen Jerman sempat berbicara tentang perlindungan anak harus masuk "Grundgesetzt" (semacam UUD Jerman?).
Di Bandung, sebulan sekali, katanya selalu ada 1-2 berita koran, tentang bayi dibuang di sungai Cikapundung yang membelah kota kembang ini.

Aku membayangkan Maria yang mengandung Yesus, sembari membayangkan kegundahan wanita yang hamil tak diinginkan.
Entah kaga pakai kondom (dan pil, serta alat kontrasepsi lain), entah ditipu lelaki, entah diapa-apain.
Aku membayangkan kegundahan Yusuf yang bingung mau menikahi Maria atau tidak. Sempat dia berpikir menikah lalu cerai.
Kegundahan yang sama dengan laki-laki ogah kondom yang menghamili pacarnya. Nikah dulu baru cerai.
Jadi nikah itu cuma demi status, ya?

Untung, Yusuf ketemu malaikat yang datang jauh-jauh dari surga (Emangnya surga itu jauh, ya?).
Jadi dia bisa diyakinkan untuk menikahi Maria dan menemani Maria di masa-masa kehamilannya lalu di masa persalinannya.
Ini adalah Suami SIAGA (Siap Antar Jaga).

I’D Miilad Said ous Sana Saida

Satu lagi, aku membayangkan Kaisar pertama Romawi yaitu Agustus.
Dia bikin sensus penduduk yang mewajibkan penduduk balik ke daerah asalnya.
Bikin aturan kok rumit-rumit, ya?
aku membayangkan birokrasi Indonesia yang kadang-kadang menyebalkan.
Maria lagi hamil harus pergi jalan kaki ke Jerusalem.

Lalu ketika sudah kontraksi, Maria tidak bisa mendapat tempat bersalin layak.
Semua menolak yusuf dan Maria.
Jadi ingat ibu-ibu miskin yang ditolak rumah sakit di Indonesia.
Atau ibu-ibu miskin yang bayinya ditahan rumah sakit, tidak boleh diambil sebelum melunasi biaya rumah sakit.
Ibu miskin yang tidak dapat hak operasi caesar, dipaksa melahirkan normal, yang akhirnya kepala bayi sampai putus.
Kehamilan dan persalinan pertama yang traumatis, melihat darah muncrat dari badan kecil tanpa kepala.
Pantas saja angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tinggi.
Orang miskin dilarang melahirkan.

Wesolych Swiat i Szczesliwego Nowego Roku

Ada pula Raja Herodes. Raja Israel yang cuma tahu pesta pora dan bayar upeti kepada Romawi.
Tidak bisa melawan penjajah Romawi. Tapi lebih milih membunuh bangsa sendiri.
Jadi ingat militer Indonesia. Tidak mampu melawan negara asing, tapi menindas rakyatnya sendiri.
Pemerintah kita tak berdaya menghadapi penindasan ekonomi bangsa asing, tapi cukup uang untuk menggebuki rakyatnya sendiri.
Herodes ini yang membuat Yusuf dan MAria harus pergi ke Mesir, karena menyerukan anak-anak yang lahir pada saat itu dibunuh.
Jadi terbayang negara Indonesia, yang tak mampu melindungi hak anak.
Banyak anak mati kurang gizi. Ditelantarkan, dll.

Apapun yang terjadi, anak metal selalu optimis, sukanya ngangguk-ngangguk.
Semoga setahun kedepan, dunia lebih baik.

Sembari belajar C++,
berteman Toblerone 750 gram, hasil cuci gudang,
dengan penuh harapan, tahun depan lulus master,
kuucap dari hati terdalam,

Selamat Natal 2007
(dan tahun baru 2008)

Damai di bumi, damai di hati

Cerman IndoBremen

December 7th, 2007 by iscab

CerMan IndoBremen

Judul di atas adalah singkatan:

CerMan = Cerita Mantan

IndoBremen = orang Indonesia di Bremen

Ternyata pergi jauh merantau ke negeri seberang, memang perjuangan keras buat sebagian orang IndoBremen. Apalagi bagi para pencinta, sepertiku.

Aku memutus hubungan kasih dengan seorang wanita yang kucinta, delapan jam sebelum keberangkatanku ke Jerman. Padahal cinta wanita ini kudapatkan dengan susah payah selama 3 tahun pedekate, penuh darah dan air mata yang tertumpah. Sialnya, kaga ada air mani yang tumpah.

Sialnya lagi hanya dalam 2 bulan setelah putus. Dia sudah bisa berpindah ke lain hati. Wah, gila, betapa mudah cowo itu mengambil hati. Hanya dalam 2 bulan. Aku saja butuh 3 tahun. Ini adalah satu contoh bahwa pria lebih setia daripada wanita.

Sampai kini, aku tetap mencintai wanita ini. Aku memilih putus karena merasa kaga enak hati kalau dia tak bisa merayakan masa mudanya. Aku tak enak jika dia yang masih muda harus menanti diriku. Sial, mengapa aku menjadi orang terlalu altruistik? Mengapa aku harus menderita demi kebahagiaan orang lain?

Lalu ada cerita lain dari kawan-kawan di Bremen, Jerman.

Sebut saja namanya W. Sampai kini di Bremen, nasibnya sama denganku jomblo selalu di Jerman. Dia bilang susah dapat jodoh di Jerman. Kugali-gali sedikit, ternyata dia masih menyimpan rasa cinta dengan seorang mantan yang memutuskannya di semester III, tepat malam hari sebelum esoknya kelas Rangkaian Listrik I. Dia memasuki kelas itu pada jam 8 pagi, dengan dunia yang berbeda. Seorang wanita yang menjalin kasih selama 4 tahun, tiba-tiba memutuskan dia. Temanku W itu kuliah di PTN Depok, dan cewe yang mutusin dia itu kuliah di PTN Gajah Tapa Bandung. Katanya sih cewe itu kembang kampus. Ini juga salah satu contoh bahwa pria lebih setia daripada wanita.

Sebut saja, namanya J. Orang terkenal di Bremen, suka pegel kalau mengunyah makanan. Dia bercerita bahwa di Indonesia, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain. Di Bremen, si J ini jadi kuliah malas-malasan. Malas balik Indo juga.

Kalau dibandingkan dengan diriku, pada semester I dan II, aku rajin kuliah di Bremen. Dengan suatu harapan, aku bisa cepat balik ke Indonesia, lalu bertemu dengan mantanku. Pada semester III, mantanku tak membalas email dan pesan di friendster. Aku langsung kehilangan semangat kuliah. Aku malas balik ke Indonesia. Ingin tinggal lama di Jerman. Satu tujuan hidup seperti hilang.

Sebut saja temanku di Bremen bernama T, asal Aceh. Orangnya senang jadi pusat perhatian. Makanya jadi DJ. Dia bilang juga bahwa dia masih menyimpan rasa dengan mantannya. Namun apa mau dikata, hubungan jarak jauh bagi dia amat sulit.  Untuk studi di Jerman, memang harus ada tumbalnya, yaitu cinta. Kamu harus merelakan kehilangan cinta, supaya bisa studi di Jerman.

Coba aja lihat Christian Sugiono, pemain film Jomblo. Dia menyimpan cinta untuk Titi Kamal, pemain film Ada Apa dengan Cinta (AADC). Dia masih aja jadian ama Titi Kamal, jadinya kuliahnya di Hamburg, Jerman, jadi DO. Mustinya dia mengorbankan cintanya, makanya bisa kuliah sampai tingkat tinggi kaya gua, J, W, dan T, yang masih jomblo di Bremen, sembari mengingat mantannya masing-masing.

BTW, akhir-akhir ini saya merenung. Perlukah cinta diperjuangkan? Aku dulu rela pedekate 3 tahun, demi cinta mantanku, yang fotonya ada di akun FS milikku. Aku masih menginginkan dirinya menjadi milikku.

Hanya ada dua pilihan cinta bagiku

1. Mantanku

2. bule yang kutemui di Jerman

Jika aku gagal dapat bule di Jerman, dan sekembalinya ke Indo, mantanku sudah bersama pria lain, aku tak tahu apa lagi tujuan hidupku selain mengabdi kepada ilmu pengetahuan (dunia Robotika, Automation, dll) dan kepada uang (menjadi pengusaha).

Mungkin Tuhan tidak menciptakanku sebagai seorang yang memiliki pasangan hidup dan berkeluarga. Kisah cintaku rumit dan sulit. Lebih baik aku mengejar hal-hal yang mudah saja di Bremen, Jerman, yaitu mencari ilmu. Ilmu pengetahuan, maksudnya, bukan ilmu santet. Mencari jodoh terlalu berat dan sulit, biar saja nanti dikasih Tuhan. Yang penting punya kenalan cewe sebanyak-banyaknya, siapa tahu ada yang nyantol. Tapi tetap saja, mantanku (yang fotonya nampang di akun friendsterku) adalah yang terbaik.

Bremen, 7 Desember 2007

Buruh…

September 20th, 2007 by iscab

Hari ini kucoba merasakan apa yang dialami kaum buruh.

Kurasakan bahwa menjadi buruh hanya menjadi sekadar alat produksi bagi perusahaan.

Bang Mandor cuma bisa bilang

"Cepat",

"Schnell, bitte!",

"Jangan berhenti, satu menit pun tak boleh hilang"

"Wir werden keine Minute verlieren."

Pengen nonjok rasanya.

Sebagai buruh, kita hanya disuruh bekerja nonstop selama waktu kerja, dan tak diberi kesempatan mengambil napas.

Bagi pengusaha kita hanyalah mesin yang bekerja untuk mereka.

Pengusaha pun melihat buruh sebagai hal yang berharga sedikit.

Hari ini di tanganku, ada TV seharga 3000 euro lebih yang lewat sebanyak 1 TV per menit. Dalam sejam, tanganku membawa 60 TV, yang berarti 180.000 euro per jam. Upah per jamku 7.5 euro per jam. Betapa nilai buruh begitu kecil di mata pengusaha.

Upahku lumayanlah. Yang jelas, kalau aku bekerja sehari di suatu gudang di Hamburg, upahku sama dengan upah sebulan buruh di Surabaya.

Sistem kerjanya juga lumayan menyenangkan. Setiap 2 jam ada istirahat 10 menit. Kalau di Indonesia dan Malaysia (kata kawanku), buruh cuma dikasih istirahat makan siang. Lumayan manusiawi.

Nasibku lebih baik daripada buruh di Tangerang, Bekasi, Surabaya, Bandung, dll. Tapi tetap saja aku merasa dihisap oleh pengusaha.

Bagiku pekerjaan ini, hanyalah fitnes gratis (malah dibayar). Bagi beberapa orang pekerjaan ini adalah hidup mati keluarga. Terutama di Indonesia.

Dalam pekerjaanku di Hamburg, aku cukup dilindungi asuransi kesehatan, asuransi sosial, dll. Buruh di Indonesia belum tentu.

Bekerja bersama sesama buruh, berstatus student, dari beberapa negara memang pengalaman berharga. Ada orang Cina asli, Malaysia, India, Vietnam, Afghanistan, Jepang, dll. Menggunakan bahasa Jerman kacau dicampur bahasa Tarzan.

Dalam bekerja, semuanya bisa saling marah-marah. Ada rasa pengen nonjok rekan kerja atau bang mandor. Tapi semuanya makan bareng di ruang istirahat.

Kata-kata yang menyenangkan buat buruh adalah "Pause" (istirahat) dan "Feierabend" (jam pulang kerja).

Aku sekarang menulis ini dengan badan pegal2, sepulang kerja. Udah mandi air hangat dan keramas. Kayanya aku bakal tidur enak.

Hari ini, aku udah lumayan enak dengan sistem logistik. Kemarin aku nyaris menjatuhkan 3 tivi. Gabungan dengan ulah mandor yang bikin aku lemas dan stress gara-gara melihat profil mantan di FS.

Ya, udah, tidur dulu.

Kapan2 kuceritakan tentang hal2 menarik di tempat kerjaku.

Kalau baca jangan setengah

September 20th, 2007 by iscab

Setelah kubaca semuanya, aku baru mengerti

Blogs yang kemarin, hanyalah ungkapan emosional semata

jika kugunakan rasionalitas dan setelah kuuji dengan kemampuan jurnalisme investigatifku, ada makna yang berbeda yang bisa kutemukan

Aku menyesal telah mengeluarkan pesan kepadanya dan pesan di blogs, hanya dari informasi secuil.

Andai saja aku tak lekas cepat emosi.

Kedewasaan memang tidak tumbuh dengan mudah.

Mudah2an keadaan tidak lebih buruk, setelah pesan2ku kemarin.

Aku menyesal membiarkan diriku dibawa emosi sehingga membuatku tidak bekerja dengan baik, hingga 3 kali nyaris menjatuhkan televisi 3000 euro lebih, dan nyaris pingsan dalam bekerja.

Andai saja aku menelusuri semua informasi dengan insting jurnalisku mungkin aku tak perlu menghabiskan waktu untuk bersedih hati.

Kali ini, aku harus berhati2 dalam mengolah informasi.

Aku lelah

September 18th, 2007 by iscab

Aku sudah lelah

Aku sudah lelah melawan takdir.

Ketika pertama melihatmu, aku tahu kita takkan bersatu.

Namun mengapa aku tak bisa melupakanmu?

Mengapa kita bertemu lagi?

Mengapa aku harus tahu nomor telponmu?

Kucoba melawan takdir.

Memang ada peluh, air mata, darah, dsb.

Ada juga banyak saingan, termasuk kawan sendiri.

Ada juga nyokap lu yg kaga suka ama gua.

Ada juga kawan-kawan lu yang memberi nasihat busuk.

Ada juga ban kempes saat kita kencan.

Ketika kuingin berdua denganmu, selalu saja ada gangguan.

Memang sudah kucoba melawan takdir.

Aku bersyukur atas cintamu yang singkat.

Aku bersyukur atas semua kawan-kawanku yang menyemangatiku untuk memperjuangkan cintamu.

Aku bersyukur karena aku sempat merasakan kemenangan atas takdir.

Tapi kemenangan dalam pertempuran bukanlah kemenangan perang.

Membunuh pion, kuda, benteng, dan perdana menteri bukanlah Skak Mat.

Aku lelah melawan takdir.

Kini mengapa aku harus bertemu orang yang tampangnya mirip dengan monyet barumu di tempat kerjaku?

Kini mengapa aku harus melihat comment kawanmu di profil friendstermu?

Mengapa takdir seakan-akan menertawakanku?

Mengapa takdir tidak puas membiarkanku kalah?

Mengapa takdir belum berhenti menyiksaku?

Jika Tuhan sungguh-sungguh ada, ingin kutanyakan padanya sampai kapankah penderitaanku ini berakhir?

Haruskah kutinggalkan dunia ini untuk mendapatkan jawabannya?

Ulang Tahun

August 17th, 2007 by iscab

Ulang Tahun

Hari ini Republik Indonesia berulangtahun ke-62. Dirgahayu RI. Moga2 tetap tegar menghadapi semua krisis dan bencana.

Aku yang jauh darimu memang rindu ingin kembali. Banyak kisah cinta indah di sana, persahabatan manis, dan masa laluku.

Aku di sini baru saja merayakan Ultah RI di halaman Konjen di kota Hamburg. Tidak terlalu berkesan, mungkin karena tidak ada wanita yang bisa membuatku semangat.

Aku bisa menemukan mahasiswa Indonesia yang studi di Jerman begitu berapi2 menceritakan pengalaman kuliah, bidang studinya, dll. Baik jurusan matematika, kelautan, penerbangan, dll.

Kalau aku di Indonesia, mahasiswa Indonesia jarang yang kaya gitu. Obrolannya acara TV, gosip artis, dan hal2 yang kaga ada hubungannya dengan bidang studinya. Kalaupun bicara hal bidang studinya, biasanya lemas.

Ternyata tempat studi mempengaruhi cara pikiran orang, ya?

Nah, kembali tentang ultah. Sebulan eh 33 hari lalu aku merayakan ultahku. Tidak ada yang spesial, karena yang namanya ultah bagiku bukan suatu hal penting (kecuali ultah mantanku yang cantik itu, 41 hari lagi). Aku merayakan ultahku dalam suatu ibadah Persekutuan Kristen Bremen. Senang punya kawan-kawan baik di Jerman. Tapi tentang ultah, tidak ada yang penting.

Di hari ulang tahunku, peringatan kelahiranku, seorang kawan mati. Paradox kelahiran dan kematian. Seorang kawan gugur menunaikan tugasnya sebagai dokter di Papua. Dia harus mengantar pasien sendiri karena sopir ambulan sedang tidak tersedia. Pasiennya mengalami komplikasi dalam melahirkan. Temanku itu berhasil mengirim pasien ke rumah sakit yang fasilitasnya lengkap, tapi ketika pulangnya, dia gugur. Pasien selamat, tapi dokter tidak. Pasien bisa melahirkan dengan baik, dokter gugur. Paradox kelahiran dan kematian lagi.

Di usia ke-62 Republik Indonesia ini, ternyata masih ada kesenjangan parah antar rumah sakit di daerah yang jauh dari ibu kota. Jalan-jalan buruk menyebabkan kecelakaan. Salah satu korbannya, ya temanku itu.

Yah, 62 tahun masih muda. Dulu negara tetangga, yaitu Amerika Serikat juga pada usia segitu masih dilanda Perang Saudara, pembantaian budak dan Indian, perebutan tanah Indian secara paksa, penindasan buruh (banyak aktivis buruh dibantai preman bayaran pemilik pabrik), orang main hakim sendiri, kelompok agama pun bisa menggantung orang seenaknya plus main hakim sendiri menyerang tempat2 yang dianggap maksiat, dll. Amerika Serikat sama kacaunya dengan Indonesia pada usia mudanya.

Mudah2an negaraku ini bisa menyambut abad 21 lebih baik dari hari ke hari.

Tanda Tanya

August 14th, 2007 by iscab

Tanda Tanya

Seperti kata Dewi ‘Dee’ Lestari dalam buku Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau tak salah judulnya), setiap orang dilahirkan dengan Tanda Tanya Agung dalam dirinya.

Nah, karena aku dilahirkan dengan tanda tanya, setiap usahaku menemukan suatu titik sebagai jawaban penangkal tanda tanya, aku malah mendapat koma lalu dilanjutkan dengan lebih banyak tanda tanya. Itukah dialektika hidupku.

Tapi tanpa dialektika ini, hidupku bakal garing banget. Walau kadang-kadang merasa iri dengan mereka yang tampak bahagia karena sepertinya mereka telah menemukan titik dalam hidupnya. Aku kok selalu dilingkupi tanda tanya terus?

Nah, sialnya adalah orang yang dekat denganku bakal juga mendapat tanda tanya bukan titik. Mereka yang senang dengan rasa nyaman akan adanya titik, akan stress dan uring-uringan denganku yang menghujani mereka dengan tanda tanya.

Sorry, kawan, aku belum menemukan titik.

Maafkan aku kekasih, jangan cintai aku bila kau mengharapkan titik. Tinggalkan aku, orang yang memiliki tanda tanya agung seluas dan sedalam samudera raya.

Nun jauh di sana, ada yang memiliki tanda tanya yang lebih besar lagi daripadaku, bahkan seluruh ruang angkasa pun tak mampu menyimpan tanda tanda tanya itu.

lung ling

August 10th, 2007 by iscab

mana mentega, mana ketupat?

yang benar tiga, atau empat?

lawan jerawat harus bertahap

kalau empat, kaga siap.

satu, dua, tiga telah kulalui

masa sih harus sampai empat?

Kaga kuat…

cape deh…

Makan baso tahu di Sabuga

Kuminta satu, Kauberi tiga

Menanam padi jangan tertusuk

Kuminta satu yang abadi, bukan tiga cepat busuk

Minum Jamu tertusuk sangkur

Apapun anugerah-Mu, kutetap bersyukur

Adakah yang abadi?

Adakah yang sejati?

Sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam luka-Mu, aku takkan percaya.

Aku memilih tidak sebahagia mereka yang percaya walau tak melihat.

cacacacaca tatatatatat

Seberkas cahaya telah terlihat,

nanananana cicicicicil

namun hanya satu lilin kecil,

bububububu tititititi

bukan penerangan sejati

mumumumumu dududududu

yang kucari seumur hidupku

Aku tak mau yang keempat,

kalau bisa jangan cawan ini

Mengapa harus kehendak-Mu?

Mengapa tidak kehendakku?